Total Tayangan Halaman

Rabu, 12 September 2018

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN KOLABORATIF

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya. Hal ini  sesuai dengan Permendikbud No.103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Pasal 2.
Secara umumnya, model pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian sistematis yang digunakan oleh guru dalam mengorganisasikan pengalaman proses pembelajaran agar tercapai tujuan dari sebuah pembelajaran. Definisi singkat lainnya yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran menurut Trianto (2011,29) adalah salah satu pendekatan yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.
Joyce berpendapat “Each model guides us as we design instruction to help students achieve various objectives” yang maksudnya adalah bahwa setiap model mengarahkan kita dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran
Menurut Suyatno dalam Abdul Kadir model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapa dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan.
Model pembelajaran bisa juga diartikan sebagai seluruh rangkaian penyajian materi yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar. Model pembelajan sendiri memiliki makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau sekedar prosedur pembelajaran.
Model pembelaran memiliki beberapa ciri ciri sebagai berikut :
1.      Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2.      Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
3.      Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
4.      Lingkungan belajar yang duperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Model pembelajaran yang baik dan tepat adalah model pembelajaran yang diterapkan pada pembelajaran bahan kajian atau pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu dengan menggunakan waktu dan dana yang tak begitu banyak serta mendapatkan siswa mendapatkan hasil yang maksimal.
Model pembelajaran yang akan dibahas pada artikel ini adalah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran kolaboratif.

1.      MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
       A. Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual
Kata “kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.
Pada mulanya pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey. Kontruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) dalam kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas.
Sanjaya dalam Setyaningrum (hal 2) menjelaskan bahwa “model pembelajaran kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.” Model ini menekankan pada aktivitas fisik maupun mental sehingga siswa tidak hanya menghafal, akan tetapi juga berproses dalam kehidupan nyata.
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membentuk hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika belajar. Mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Model kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara ilmiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
B. Komponen dalam Pembelajaran Kontekstual
a. Kontruktivisme
1) Membangun pemahaman mereka sendiri daripengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
2) Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
b.   Inkuiri
1)      Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
2)      Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
c.    Questioning (bertanya)
1)      Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
2)      Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
d.   Learning Community (masyarakat belajar)
1)      Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
2)      Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
3)      Tukar pengalaman
4)      Berbagi ide
e.    Modeling (Pemodelan)
1)      Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
2)      Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
f.     Reflection (refleksi)
1)      Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
2)      Mencatat apa yang telah dipelajari
3)      Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok.
g.   Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya)
1)      Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
2)      Penilaian produk (kinerja)
3)      Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
     C. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Atas dasar pengertian tersebut, pembelajaran kontekstual menurut Muslich, mempunyai   karakteristik sebagai berikut:
a.       Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
b.      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
c.       Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
d.      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).
e.       Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
f.        Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
g.      Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity)
Adapun dalam sosialisasi oleh Depdiknas, karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual, yaitu kerjasama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar dengan semangat, pembelajaran terintegrasi, mengunakan berbagai sumber dan siswa aktif.
Model pembelajaran kontekstual ini meliputi : adanya umpan balik, penggunaan berbagai alat bantu, belajar kelompok, model demokrasi, peningkatan pemahaman siswa, evaluasi berdasarkan penilaian autentik, pembelajaran diformat berdasarkan tempat dan waktu yang tersedia, dan informasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

2.      MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF
            A. Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif
Sebagian pendidik telah menyadari bahwa pembelajaran yang memandang peserta didik menjadi cerdas, kritis, dan kreatif serta mampu bekerjasama memecahkan masalah
yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari adalah merupakan hal penting, karena proses belajar yang diperoleh peserta didik selama ini lebih banyak pada “belajar tentang” (learning about thing) daripada “belajar bagaimana” (learning how to be).
Barkley (2007: 4) dalam Titin Nurfiatim menyatakan bahwa “Mengkolaborasikan adalah mengerjakan sesuatu dengan pihak lain”. Dalam pembelajaran kolaboratif siswa belajar berpasangan atau membentuk kelompok kecil dalam mencapai tujuan. Mereka membentuk kelompok belajar, tidak belajar sendiri.
Pembelajaran kolaboratif adalah suatu situasi dimana dua orang atau lebih belajar atau mencoba belajar sesuatu secara bersama-sama sehingga model pembelajaran ini dapat mengembangkan partisipasi aktif siswa. Dalam pembelajaran kolaboratif kerja sama kelompok dilakukan dengan cara pembebanan tugas dan tanggung jawab pada masing-masing siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran kolaboratif memungkinkan antar anggota dalam kelompok saling mendengarkan, dan mendapatkan banyak pendapat dari sudut pandang berbeda-beda. Akan ada banyak pendapat, ide, problem dan solusi. Hal itu akan merangsang pemahaman siswa yang lebih mendalam.
Menurut Hill & Hill (dalam Setyosari, 2009:12), ada beberapa keunggulan pembelajaran kolaborasi, antara lain berkenaan dengan (1) prestasi belajar lebih tinggi, (2) pemahaman lebih mendalam, (3) mengembangkan keterampilan kepemimpinan, (5) meningkatkan sikap positif, (6) meningkatkan harga diri, (7) belajar secara inklusif, (8) merasa saling memiliki, dan (9) mengembangkan keterampilan masa depan.
Penelitian oleh Gokhale (1995) dalam Djoko Apriono (2013) menyimpulkan bahwa pembelajaran kolaboratif melalui diskusi, klarifikasi gagasan, dan evaluasi dari orang lain dapat menguatkan pemikiran kritis dan efektif dalam mendapatkan pengetahuan factual.
Keterampilan bekerjasama merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam kehidupan dewasa ini, karena hamper semua perilaku yang ada di masyarakat
menunjukkan adanya kerjasama dari semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, laki-laki dan perempuan, serta golongan.
Bordessa (2005) dalam Djoko Apriono (2013) juga menyatakan pentingnya seseorang peserta didik memiliki keterampilan kerjasama, dengan mengatakan bahwa peserta didik benar-benar harus belajar untuk bekerjasama menuju satu tujuan, yakni adanya pemahaman bahwa tidak ada satu orangpun yang memiliki semua jawaban yang tepat, kecuali dengan bekerjasama.
      B. Macam-macam Model Pembelajaran Kolaboratif
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu.:
1)      Learning Together.
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2)      Teams-Games-Tournament (TGT). Setelah belajar bersama kelompoknya
sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota
kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian
didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3)      Group Investigation (GI).
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4)      Academic-Constructive Controversy (AC).
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama
anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5)      Jigsaw Proscedure (JP).
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6)      Student Team Achievement Divisions (STAD).
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah
keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan
demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7)      Complex Instruction (CI).
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuh kembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8)      Team Accelerated Instruction (TAI).
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9)      Cooperative Learning Stuctures (CLS).
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran
10)  Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
            C.  Langkah-langkah Pembelajaan Kolaboratif
1.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri
2.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3.      Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.      Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5.      Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan
agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil
diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegitan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6.      Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi,
inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulann
7.      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan,
disusun perkelompok kolaboratif.
8.      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Daftar Pustaka
Apriono, Djoko. 2013. Pembelajaran Kolaboratif : Suatu Landaan untuk Membangun Kebersamaan dan Keterampilan Kerjasama. Diklus. Edisi XVII 01
Nurfiatin, Titin, dkk.2015. Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif Disertai Strategi Quantum Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pm 1 Smk Negeri 6 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Artikel Ilmiah. Pendidikam Tata Niaga
Rosmalia Dewi, Mia, dkk. 2016. “Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif berbasis Lesson Study terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa.” Jurnal Edukasi UNEJ, (2) : 29-33
Suryani, Nunuk. “Implementasi Model Pembelajaran Kolaboratif Untuk Meningkatkan Ketrampilan Sosial Siswa.
3.      DISKUSI
Berdasarkan pembahasan mengenai model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif yang telah saya sampaikan maka ada beberapa hal yang menarik untuk didiskusikan sebagai berikut :
1. Pembelajaran kolaboratif menekankan pada aktivitas “bekerja bersama” dalam artian siswa menyelesaikan tugas ataupun permasalahan secara bersama-sama. Pada kondisi real atau kondisi nyata dilapangan terkadang beberapa siswa memilih lebih mengandalkan teman dalam penyelesaian permasalahan atau tugas. Hal ini berangkat dari kurangnya tanggung jawab anak yang tersebut dalam mengambil peran dalam kelompok. Bagaimana tanggapan dan solusi anda terhadap permasalahan tersebut ?
2.  Pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada penggunaan berbagai sumber belajar dan juga mengacu pada berbagai fakta yang terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana pendapat anda mengenai proses pembelajaran yang terjadi pada anak-anak yang tinggal dilingkungan 3T dengan segala keterbatasan sumber daya yang mereka alami ?
3. Bagaimanakah peran guru dalam menimbulkan kebiasaan berfikir kritis seluruh siswa dalam pembelajaran kolaboratif, bukan hanya siswa yang aktif dalam diskusi, namun juga siswa yang cenderung pasif ?

Terimakasih atas perhatiannya. Mari berdiskusi.


22 komentar:

  1. Ulasannya sangat bagus sekali, sehingga saya tertarik utk menanggapi pertanyaan no3, seperti yg kita lihat dalam keadaan real sebagian guru hanya membimbing dan memberi tugas kpd siswanya, alangkah baiknya siguru tersebut itu menciptakan inovasi baru, mengajak siswa berfikir dg memancing memberi pertanyaan yg sudah dipelajari sebelumnya supaya siswa dapat berfikir kritis mengungat kembali materi yg sudah dipelajari, setelah itu baru memancing dg pertanyaan dg pelajaran yg dipelajari skrg atau bisa dalam berbentuk kuis, misalkan dikasih beberapa soal pelajaran yg sudah dipelajari siswa sebelumnya utk dijawab, 10 org utk pengumpul pertama, jd siswa akan berlomba-lomba utk mengerjakan soal tersebut, sehingga terciptanya suasana belajar yg aktif, kritis maupun menarik.terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas ulasan saudara.
      Apakah menarik anak untuk berfikir kritis hanya dengan memberikan soal-soal untuk dijawab text book saja..?
      Terimakasih.

      Hapus
  2. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3

    Seorang guru harus mampu memahami setiap karakteristik siswa, khususnya bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih didalam kegiatan belajar mengajar. Contoh nya siswa yabg pasif.. dan pada saat diskusi hanya mengandalkan siswa yg aktif. Sebagai pendidik harus mampu membimbing siswa agar beraifat aktif seperti Memberi Sentuhan pada Titik Peka Anak, Mengembangkan rasa percaya diri anak, Memberikan pertanyaan atau stimilus kepada siswa dan memberikan penghargaan atau penghormatan kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan itu, Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya

    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Solusi yang baik untuk kita terapkan dalam model pembelajaran. Saya lihat jawaban anda bersifat positif dalam artian tidak ada punishment dalam menghadapi persoalan diatas. Menurut anda pemberian punishment pada siswa apakah itu adalah tindakan yan tepat?

      Hapus
  3. Pertanyaan nomor satu adalah masalah yang sering kita jumpai pada saat pembelajaran kolaboratif, untuk itu guru perlu mempersiapkan tugas dan peran yang jelas pada setiap anggota kelompok. Anggota kelompok tidak terlalu banyak. Perlu juga pemberian penghargaan secara individu (anggota terbaik).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas ulasannya.
      Berdasarkan komentar saudara diatas saya menyimpulkan bahwa peran guru harus selalu optimal dalam setiap proses pembelajaran. Kreativitas guru dalam pembelajaran juga harus dimaksimalkan. Terimakasih

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Saya akan menanggapi no.2 ..
    Utk daerah 3T. Faktor utama nya adalah keterbatasan sarana dan prasarana baik untuk umum maupun sekolah. Dalam keadaan seperti ini yg berperan adalah guru.. keterbatasan sumber belajar seperti buku adalah hal penting dalam proses pembelajaran. Jadi dalam hal ini.. sumber harus dari guru.
    Guru memberikan materi kepada siswa secara detail.. dan bisa dilaksanakan model kolaboratif ataupun CTL tetapi pkok bahasan siswa itu hrus mengacu pada materi yg sudah diberikan guru. Sbg contoh .. siswa akan mempelajari tanaman yang memiliki daun berbentuk menjari.. menyirip.. sejajar. Maka guru sebelum nya hrus menggambarkan bagaimana bentuk daun tersebut. Kemudian siswa dapat mencari daun manakah yg mirip dengan gambar dan pada tanaman apa yg memiliki daun seperti itu.

    BalasHapus
  6. Terimakasih ulasannya saudari desi. Berdasarkan jawaban anda saya dapat mengambil kesimpuln bahwa guru sebagai satu-satu nya sumber belajar. Bagaimana jika kualitas guru yang ada tidak memenuhi kualifikasi secara SDM nya..

    BalasHapus
  7. Untuk poin nomor 2, dalam konsep model pembelajaran ini menekankan siswa lebih aktif, jika ternyata dilapangan yang terjadi tidak sesuai yang di inginkan, maka di sinilah peran guru untuk melatih siswa, terus di motivasi sampai minat belajarnya meningkat dan mau ikut serta dalam proses belajar dengan model pembelajaran ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat setuju dengan pernyataan saudari Humairah. Guru lebih berperan penting dalam melatih dan memotivasi siswa. Bisa menginovasi model pembelajaran sehingga bisa menimbulkan minat belajar bgi siswa. Terima kasih

      Hapus
    2. Lalu bagaimana stimulus yang harus dilakukan seorang guru untuk melatih siswa untuk aktif dalam pembelajaran?

      Hapus
  8. pertanyaan no 3. 5 Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa yaitu 1. Memberikan penjelasan sederhana yang meliputi; memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan, bertanya dan menjawab tentang suatu penjelasan atau tantangan.2. Membangun keterampilan dasar Membangun keterampilan dasar, yang meliputi; mempertimbangkan bagaimana sumber dapat dipercaya, mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi. 3. Menyimpulkan Menyimpulkan, yang meliputi; mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi , membuat dan menentukan nilai pertimbangan.4. Memberikan pertimbangan lanjut
    Memberikan pertimbangan lanjut, yang meliputi; mendefinisikan istilah dan pertimbangan definisi dalam tiga dimensi, serta mengidintifikasi asumsi. 5. Mengatur strategi dan taktik
    yang meliputi: menetukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

    BalasHapus
  9. Menjawab soal nomor 3 guru harus membuat inovasi baru yang lebih menantang agar terciptanya keatifan di dalam proses pembelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaimana cara melibatkan siswa yang pasif dalam pembelajaran menurut anda?

      Hapus
  10. saya akan menanggapi pertanyaan no 3.
    untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis guru harus membuat pembelajaran lebih menarik dengan memilih model, teknik, dan metode yg digunakan selain itu gaya mengajar guru jg dapat mempengaruhinya, dapat juga memberikan reward kepada siswa yg aktif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan cara anda memberikan reward kepada siswa yang aktif, lalu bagaimana cara yang dapat kita ambil untuk menghadapi siswa yang pasif?

      Hapus
  11. dear sdra. susanti
    bagaimana cara menciptakan pembelajaran yang inovatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara menciptakan pembelajaran inovatif adalah salah satunya dengan menggunakan media pembelajran yang mernarik sehingga memudahkan sisw unutk memahami pembelajaran. Terimakasih.

      Hapus
  12. untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis guru harus mampu membuat pembelajaran lebih menarik dengan memilih model, teknik, dan metode yg digunakan selain itu gaya mengajar guru seta skill komunikasi juga dapat mempengaruhinya. Terimkasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas ulasan anda, lalu bagaimana guru menstimulus siswa agar mampu berfikir kritis sejak awal pembelajaran.

      Hapus
  13. Trims buat konten yg menarik ini, tapi saya masih bingung bagaimana mencocokan tujuan belajar dengan kemampuan yg ingin diterapkan.

    BalasHapus