BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan
adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat
perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah
hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan.
Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus
dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.
Pendidikan
yang mampu mendukung pembangunan masa depan adalah pendidikan yang mampu
mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu
menghadapi dan memecahkan problema yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh
potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan
tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di
masyarakat dan dunia kerja.
Masalah
utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) saat ini adalah masih
rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar
peserta didik yang masih sangat memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan
hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh
ranah dimensi peserta didik itu sendiri.
Bagi
kita yang aktif dalam pendidikan, khususnya pembelajaran di kelas yaitu pada
bidang sains, banyak sekali pertanyaan yang hingga saat ini belum terjawab.
Pertanyaan tersebut berkisar pada permasalahan pembelajaran sains. Salah satu
pertanyaan tersebut adalah bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan dan
membelajarkan banyak konsep sains di kelas sehingga peserta didik dapat tetap
mengingat informasi yang didapatnya dan menggunakannya.
Pada
hakikatnya, pembelajaran adalah usaha sadar bagi seorang guru untuk
membelajarkan peserta didiknya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber
belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan (Trianto,
2012).Untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan pembelajaran,tentu
diperlukan model-model pembelajaran. Selanjutnya Trianto (2012) menjelaskan
bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar untuk
merencanakan aktivitas pembelajaran.
Model
pembelajaran quantum menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses
pembelajaran lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah.
Dengan menggunakan model pembelajaran quantum kita dapat menggabungkan
keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pembelajaran yang
akan meningkatkan hasil belajar peserta didik (Deporter, 2010).
Akan
tetapi, pada kenyataannya tidak semua guru mampu menerapkan model pembelajaran
tersebut. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman tentang bagaimana
hakikat model pembelajaran itu sendiri serta bagaimana cara penerapannya. Untuk
itu, melalui makalah ini akan dibahas tentang bagaimana sebenarnya efektivitas
model pembelajaran quantum.