Model
pembelajaran adalah kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang
memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya. Hal ini sesuai
dengan Permendikbud No.103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan
Dasar dan Pendidikan Menengah, Pasal 2.
Secara
umumnya, model pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian sistematis yang
digunakan oleh guru dalam mengorganisasikan pengalaman proses pembelajaran agar
tercapai tujuan dari sebuah pembelajaran. Definisi singkat lainnya yaitu
suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Model
pembelajaran menurut Trianto (2011,29) adalah salah satu pendekatan yang
dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik
yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi
selangkah.
Joyce
berpendapat “Each model guides us as we design instruction to help
students achieve various objectives” yang maksudnya adalah bahwa setiap model
mengarahkan kita dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik
mencapai tujuan pembelajaran
Menurut
Suyatno dalam Abdul Kadir model pembelajaran adalah
bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang
disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran
terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan adalah konsep dasar
yang mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu. Metode pembelajaran adalah prosedur,
urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian
tujuan pembelajaran. Dapa dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan
jabaran dari pendekatan.
Model
pembelajaran bisa juga diartikan sebagai seluruh rangkaian penyajian materi
yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang
dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara
langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar. Model pembelajan
sendiri memiliki makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau sekedar
prosedur pembelajaran.
Model
pembelaran memiliki beberapa ciri ciri sebagai berikut :
1. Rasional
teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2. Landasan
pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
3. Tingkah
laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan
berhasil.
4. Lingkungan
belajar yang duperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Model
pembelajaran yang baik dan tepat adalah model pembelajaran yang diterapkan pada
pembelajaran bahan kajian atau pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu
dengan menggunakan waktu dan dana yang tak begitu banyak serta mendapatkan
siswa mendapatkan hasil yang maksimal.
Model
pembelajaran yang akan dibahas pada artikel ini adalah model pembelajaran
kontekstual dan model pembelajaran kolaboratif.
1. MODEL
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
A. Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual
Kata
“kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau kalimat yang
dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yang ada
hubungan dengan suatu kejadian.
Pada
mulanya pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John
Dewey. Kontruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) dalam kontekstual,
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang
hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas.
melalui konteks yang terbatas.
Sanjaya
dalam Setyaningrum (hal 2) menjelaskan bahwa “model pembelajaran kontekstual
adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.” Model ini
menekankan pada aktivitas fisik maupun mental sehingga siswa tidak hanya
menghafal, akan tetapi juga berproses dalam kehidupan nyata.
Contextual
Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsep mengajar dan
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membentuk hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Pengetahuan
dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa
mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika
belajar. Mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya
sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan
dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses
mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Model
kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan
belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara ilmiah, artinya
belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri
apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.
Pembelajaran
kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni:
konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri),
masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan
penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
B. Komponen
dalam Pembelajaran Kontekstual
a. Kontruktivisme
1) Membangun
pemahaman mereka sendiri daripengalaman baru berdasar pada
pengetahuan awal.
2) Pembelajaran
harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
b. Inkuiri
1) Proses
perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
2) Siswa
belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
c. Questioning (bertanya)
1) Kegiatan
guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
2) Bagi
siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis
inquiry
d. Learning
Community (masyarakat belajar)
1) Sekelompok
orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
2) Bekerjasama
dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
3) Tukar
pengalaman
4) Berbagi
ide
e. Modeling (Pemodelan)
1) Proses
penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
2) Mengerjakan
apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
f. Reflection (refleksi)
1) Cara
berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
2) Mencatat
apa yang telah dipelajari
3) Membuat
jurnal, karya seni, diskusi kelompok.
g. Authentic
Assessment (penilaian yang sebenarnya)
1) Mengukur
pengetahuan dan keterampilan siswa
2) Penilaian
produk (kinerja)
3) Tugas-tugas
yang relevan dan kontekstual
C. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Atas
dasar pengertian tersebut, pembelajaran kontekstual menurut Muslich,
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Pembelajaran
dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan
pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata
atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang
alamiah (learning in real life setting).
b. Pembelajaran
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang
bermakna (meaningful learning).
c. Pembelajaran
dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning
by doing).
d. Pembelajaran
dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi
antarteman (learning in a group).
e. Pembelajaran
memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama,
dan saling memahami antara satu dengan yang lain
secara mendalam (learning to know each other deeply).
f. Pembelajaran
dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja
sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
g. Pembelajaran
dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy
activity)
Adapun dalam
sosialisasi oleh Depdiknas, karakteristik pembelajaran berbasis
kontekstual, yaitu kerjasama, saling menunjang, menyenangkan, tidak
membosankan, belajar dengan semangat, pembelajaran terintegrasi, mengunakan
berbagai sumber dan siswa aktif.
Model
pembelajaran kontekstual ini meliputi : adanya umpan balik, penggunaan berbagai
alat bantu, belajar kelompok, model demokrasi, peningkatan pemahaman siswa,
evaluasi berdasarkan penilaian autentik, pembelajaran diformat berdasarkan
tempat dan waktu yang tersedia, dan informasi yang diberikan sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.
2. MODEL
PEMBELAJARAN KOLABORATIF
A. Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif
Sebagian
pendidik telah menyadari bahwa pembelajaran yang memandang peserta
didik menjadi cerdas, kritis, dan kreatif serta mampu bekerjasama
memecahkan masalah
yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari adalah merupakan hal penting, karena proses belajar yang diperoleh peserta didik selama ini lebih banyak pada “belajar tentang” (learning about thing) daripada “belajar bagaimana” (learning how to be).
yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari adalah merupakan hal penting, karena proses belajar yang diperoleh peserta didik selama ini lebih banyak pada “belajar tentang” (learning about thing) daripada “belajar bagaimana” (learning how to be).
Barkley
(2007: 4) dalam Titin Nurfiatim menyatakan bahwa “Mengkolaborasikan adalah
mengerjakan sesuatu dengan pihak lain”. Dalam
pembelajaran kolaboratif siswa belajar berpasangan atau
membentuk kelompok kecil dalam mencapai tujuan. Mereka
membentuk kelompok belajar, tidak belajar sendiri.
Pembelajaran
kolaboratif adalah suatu situasi dimana dua orang atau lebih belajar atau
mencoba belajar sesuatu secara bersama-sama sehingga model pembelajaran
ini dapat mengembangkan partisipasi aktif siswa. Dalam pembelajaran
kolaboratif kerja sama kelompok dilakukan dengan cara pembebanan tugas dan
tanggung jawab pada masing-masing siswa dalam kelompok untuk
mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran
kolaboratif memungkinkan antar anggota dalam kelompok saling
mendengarkan, dan mendapatkan banyak pendapat dari sudut pandang
berbeda-beda. Akan ada banyak pendapat, ide, problem dan solusi. Hal
itu akan merangsang pemahaman siswa yang lebih mendalam.
Menurut
Hill & Hill (dalam Setyosari, 2009:12), ada beberapa keunggulan
pembelajaran kolaborasi, antara lain berkenaan dengan (1) prestasi
belajar lebih tinggi, (2) pemahaman lebih mendalam, (3) mengembangkan
keterampilan kepemimpinan, (5) meningkatkan sikap positif, (6)
meningkatkan harga diri, (7) belajar secara inklusif, (8)
merasa saling memiliki, dan (9) mengembangkan keterampilan
masa depan.
Penelitian
oleh Gokhale (1995) dalam Djoko Apriono (2013) menyimpulkan bahwa pembelajaran
kolaboratif melalui diskusi, klarifikasi gagasan, dan evaluasi dari
orang lain dapat menguatkan pemikiran kritis dan efektif dalam
mendapatkan pengetahuan factual.
Keterampilan
bekerjasama merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat dalam kehidupan dewasa ini, karena hamper semua perilaku
yang ada di masyarakat
menunjukkan adanya kerjasama dari semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, laki-laki dan perempuan, serta golongan.
menunjukkan adanya kerjasama dari semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, laki-laki dan perempuan, serta golongan.
Bordessa
(2005) dalam Djoko Apriono (2013) juga menyatakan pentingnya seseorang
peserta didik memiliki keterampilan kerjasama, dengan mengatakan
bahwa peserta didik benar-benar harus belajar untuk bekerjasama
menuju satu tujuan, yakni adanya pemahaman bahwa tidak ada satu
orangpun yang memiliki semua jawaban yang tepat, kecuali
dengan bekerjasama.
B. Macam-macam Model Pembelajaran Kolaboratif
Ada
banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para
ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student
Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar
sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu.:
1) Learning
Together.
Dalam
metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang
beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas
yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan
satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2) Teams-Games-Tournament (TGT).
Setelah belajar bersama kelompoknya
sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota
kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian
didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota
kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian
didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3) Group
Investigation (GI).
Semua
anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta
perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja
yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut
bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian
didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4) Academic-Constructive
Controversy (AC).
Setiap
anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik
intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing,
baik bersama
anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5) Jigsaw
Proscedure (JP).
Dalam
bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang
berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat
memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang
menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6) Student
Team Achievement Divisions (STAD).
Para
siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan
sesamanya. Fokusnya adalah
keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan
demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan
demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7) Complex
Instruction (CI).
Metode
pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi
pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan
sosial. Fokusnya adalah menumbuh kembangkan ketertarikan semua anggota
kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam
pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa)
dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada
proses dan hasil kerja kelompok.
8) Team
Accelerated Instruction (TAI).
Bentuk pembelajaran
ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan
pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi
soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu
dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap
pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan
soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat
menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal
lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat
kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun
kelompok.
9) Cooperative
Learning Stuctures (CLS).
Dalam
pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa
(berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang
lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus
dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh
poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu
yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan
itu berganti peran
10) Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC).
Model pembelajaran
ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan
pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini,
para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik
secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
C. Langkah-langkah Pembelajaan
Kolaboratif
1. Para
siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi
tugas sendiri-sendiri
2. Semua
siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3. Kelompok
kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan,
meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah
dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4. Setelah
kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan
masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara
lengkap.
5. Guru
menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan
agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil
diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegitan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil
diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegitan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6. Masing-masing
siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi,
inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulann
inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulann
7. Laporan
masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan,
disusun perkelompok kolaboratif.
disusun perkelompok kolaboratif.
8. Laporan
siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya,
dan didiskusikan.
Daftar
Pustaka
Apriono,
Djoko. 2013. Pembelajaran Kolaboratif : Suatu Landaan untuk Membangun
Kebersamaan dan Keterampilan Kerjasama. Diklus. Edisi XVII 01
Nurfiatin,
Titin, dkk.2015. Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif Disertai Strategi Quantum
Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pm 1 Smk
Negeri 6 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Artikel Ilmiah. Pendidikam Tata
Niaga
Rosmalia
Dewi, Mia, dkk. 2016. “Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif
berbasis Lesson Study terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa.”
Jurnal Edukasi UNEJ, (2) : 29-33
Suryani,
Nunuk. “Implementasi Model Pembelajaran Kolaboratif Untuk Meningkatkan
Ketrampilan Sosial Siswa.
3. DISKUSI
Berdasarkan
pembahasan mengenai model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif yang telah
saya sampaikan maka ada beberapa hal yang menarik untuk didiskusikan sebagai
berikut :
1.
Pembelajaran kolaboratif menekankan pada aktivitas “bekerja bersama” dalam
artian siswa menyelesaikan tugas ataupun permasalahan secara bersama-sama. Pada
kondisi real atau kondisi nyata dilapangan terkadang beberapa siswa
memilih lebih mengandalkan teman dalam penyelesaian permasalahan atau tugas.
Hal ini berangkat dari kurangnya tanggung jawab anak yang tersebut dalam mengambil
peran dalam kelompok. Bagaimana tanggapan dan solusi anda terhadap permasalahan
tersebut ?
2. Pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang
menekankan pada penggunaan berbagai sumber belajar dan juga mengacu pada
berbagai fakta yang terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana pendapat anda
mengenai proses pembelajaran yang terjadi pada anak-anak yang tinggal
dilingkungan 3T dengan segala keterbatasan sumber daya yang mereka alami ?
3.
Bagaimanakah peran guru dalam menimbulkan kebiasaan berfikir kritis seluruh
siswa dalam pembelajaran kolaboratif, bukan hanya siswa yang aktif dalam
diskusi, namun juga siswa yang cenderung pasif ?
Terimakasih
atas perhatiannya. Mari berdiskusi.
Ulasannya sangat bagus sekali, sehingga saya tertarik utk menanggapi pertanyaan no3, seperti yg kita lihat dalam keadaan real sebagian guru hanya membimbing dan memberi tugas kpd siswanya, alangkah baiknya siguru tersebut itu menciptakan inovasi baru, mengajak siswa berfikir dg memancing memberi pertanyaan yg sudah dipelajari sebelumnya supaya siswa dapat berfikir kritis mengungat kembali materi yg sudah dipelajari, setelah itu baru memancing dg pertanyaan dg pelajaran yg dipelajari skrg atau bisa dalam berbentuk kuis, misalkan dikasih beberapa soal pelajaran yg sudah dipelajari siswa sebelumnya utk dijawab, 10 org utk pengumpul pertama, jd siswa akan berlomba-lomba utk mengerjakan soal tersebut, sehingga terciptanya suasana belajar yg aktif, kritis maupun menarik.terimakasih
BalasHapusTerimakasih atas ulasan saudara.
HapusApakah menarik anak untuk berfikir kritis hanya dengan memberikan soal-soal untuk dijawab text book saja..?
Terimakasih.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusSeorang guru harus mampu memahami setiap karakteristik siswa, khususnya bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih didalam kegiatan belajar mengajar. Contoh nya siswa yabg pasif.. dan pada saat diskusi hanya mengandalkan siswa yg aktif. Sebagai pendidik harus mampu membimbing siswa agar beraifat aktif seperti Memberi Sentuhan pada Titik Peka Anak, Mengembangkan rasa percaya diri anak, Memberikan pertanyaan atau stimilus kepada siswa dan memberikan penghargaan atau penghormatan kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan itu, Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
Terimakasih
Solusi yang baik untuk kita terapkan dalam model pembelajaran. Saya lihat jawaban anda bersifat positif dalam artian tidak ada punishment dalam menghadapi persoalan diatas. Menurut anda pemberian punishment pada siswa apakah itu adalah tindakan yan tepat?
HapusPertanyaan nomor satu adalah masalah yang sering kita jumpai pada saat pembelajaran kolaboratif, untuk itu guru perlu mempersiapkan tugas dan peran yang jelas pada setiap anggota kelompok. Anggota kelompok tidak terlalu banyak. Perlu juga pemberian penghargaan secara individu (anggota terbaik).
BalasHapusTerimakasih atas ulasannya.
HapusBerdasarkan komentar saudara diatas saya menyimpulkan bahwa peran guru harus selalu optimal dalam setiap proses pembelajaran. Kreativitas guru dalam pembelajaran juga harus dimaksimalkan. Terimakasih
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya akan menanggapi no.2 ..
BalasHapusUtk daerah 3T. Faktor utama nya adalah keterbatasan sarana dan prasarana baik untuk umum maupun sekolah. Dalam keadaan seperti ini yg berperan adalah guru.. keterbatasan sumber belajar seperti buku adalah hal penting dalam proses pembelajaran. Jadi dalam hal ini.. sumber harus dari guru.
Guru memberikan materi kepada siswa secara detail.. dan bisa dilaksanakan model kolaboratif ataupun CTL tetapi pkok bahasan siswa itu hrus mengacu pada materi yg sudah diberikan guru. Sbg contoh .. siswa akan mempelajari tanaman yang memiliki daun berbentuk menjari.. menyirip.. sejajar. Maka guru sebelum nya hrus menggambarkan bagaimana bentuk daun tersebut. Kemudian siswa dapat mencari daun manakah yg mirip dengan gambar dan pada tanaman apa yg memiliki daun seperti itu.
Terimakasih ulasannya saudari desi. Berdasarkan jawaban anda saya dapat mengambil kesimpuln bahwa guru sebagai satu-satu nya sumber belajar. Bagaimana jika kualitas guru yang ada tidak memenuhi kualifikasi secara SDM nya..
BalasHapusUntuk poin nomor 2, dalam konsep model pembelajaran ini menekankan siswa lebih aktif, jika ternyata dilapangan yang terjadi tidak sesuai yang di inginkan, maka di sinilah peran guru untuk melatih siswa, terus di motivasi sampai minat belajarnya meningkat dan mau ikut serta dalam proses belajar dengan model pembelajaran ini.
BalasHapusSangat setuju dengan pernyataan saudari Humairah. Guru lebih berperan penting dalam melatih dan memotivasi siswa. Bisa menginovasi model pembelajaran sehingga bisa menimbulkan minat belajar bgi siswa. Terima kasih
HapusLalu bagaimana stimulus yang harus dilakukan seorang guru untuk melatih siswa untuk aktif dalam pembelajaran?
Hapuspertanyaan no 3. 5 Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa yaitu 1. Memberikan penjelasan sederhana yang meliputi; memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan, bertanya dan menjawab tentang suatu penjelasan atau tantangan.2. Membangun keterampilan dasar Membangun keterampilan dasar, yang meliputi; mempertimbangkan bagaimana sumber dapat dipercaya, mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi. 3. Menyimpulkan Menyimpulkan, yang meliputi; mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi , membuat dan menentukan nilai pertimbangan.4. Memberikan pertimbangan lanjut
BalasHapusMemberikan pertimbangan lanjut, yang meliputi; mendefinisikan istilah dan pertimbangan definisi dalam tiga dimensi, serta mengidintifikasi asumsi. 5. Mengatur strategi dan taktik
yang meliputi: menetukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.
Menjawab soal nomor 3 guru harus membuat inovasi baru yang lebih menantang agar terciptanya keatifan di dalam proses pembelajaran
BalasHapusBagaimana cara melibatkan siswa yang pasif dalam pembelajaran menurut anda?
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 3.
BalasHapusuntuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis guru harus membuat pembelajaran lebih menarik dengan memilih model, teknik, dan metode yg digunakan selain itu gaya mengajar guru jg dapat mempengaruhinya, dapat juga memberikan reward kepada siswa yg aktif
Saya setuju dengan cara anda memberikan reward kepada siswa yang aktif, lalu bagaimana cara yang dapat kita ambil untuk menghadapi siswa yang pasif?
Hapusdear sdra. susanti
BalasHapusbagaimana cara menciptakan pembelajaran yang inovatif
Cara menciptakan pembelajaran inovatif adalah salah satunya dengan menggunakan media pembelajran yang mernarik sehingga memudahkan sisw unutk memahami pembelajaran. Terimakasih.
Hapusuntuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis guru harus mampu membuat pembelajaran lebih menarik dengan memilih model, teknik, dan metode yg digunakan selain itu gaya mengajar guru seta skill komunikasi juga dapat mempengaruhinya. Terimkasih
BalasHapusTerimakasih atas ulasan anda, lalu bagaimana guru menstimulus siswa agar mampu berfikir kritis sejak awal pembelajaran.
HapusTrims buat konten yg menarik ini, tapi saya masih bingung bagaimana mencocokan tujuan belajar dengan kemampuan yg ingin diterapkan.
BalasHapus