
PENDAHULUAN
Sains atau science pada dasarnya
merupakan akar ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek. Perkembangan iptek
berasal dari penemuan-penemuan yang dihasilkan dalam bidang sains. Berdasarkan
hal ini maka pembelajaran sains disekolah perlu diciptakan agar menarik dan
menjadi aktivitas yang mengasyikan bagi siswa. Dengan pembelajaran sains yang
mengasyikan, siswa akan termotivasi untuk menggali fenomena alam dan
menciptakan suatu penemuan yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan
iptek.
Pembelajaran sains harus mampu
membangkitkan rasa ingin tahu atau curiousity siswa tentang fenomena alam yang dipelajari. Siswa
pada dasarnya adalah ilmuwan atau scientist muda yang perlu dibangkitkan rasa
ingin tahunya melalui pendekatan pembelajaran inquiry dan metode penemuan atau discovery. Implementasi kedua pendekatan ini dalam aktivitas
pembelajaran akan membuat siswa menjadi terbiasa dalam memecahkan masalah yang
dihadapi atau problem solving.
Pembelajaran dapat dipandang sebagai sebuah sistem dengan komponen-komponen yang saling terkait satu sama lain. Komponen-komponen dalam sistem pembelajaran meliputi; (1) tujuan atau kompetensi yang akan dicapai; (2) guru; (3) siswa; (4) materi; (5) metode; (6) media; (7)
stratetegi pembelajaran; (8) penilaian hasil belajar. Setiap komponen harus didesain dan dikembangkan selaras dengan kompetensi yang perlu dikuasai oleh siswa.
Artikel ini akan mengelaborasi
implementasi penilaian performa siswa untuk mengukur kemampuan siswa dalam
mempelajari isi atau mata pelajarains. Bentuk penilaian seperti apa yang
diperlukan untuk mengetahui kompetensi siswa setelah mempelajari mata pelajaran sains? Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat diperlukan untuk dapat merancang dan mengembangkan sistem penilaian untuk mengukur kemampuan siswa dalam mata pelajaran sains.
diperlukan untuk mengetahui kompetensi siswa setelah mempelajari mata pelajaran sains? Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat diperlukan untuk dapat merancang dan mengembangkan sistem penilaian untuk mengukur kemampuan siswa dalam mata pelajaran sains.
Penilaian adalah proses memberikan
atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu
Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya
ukuran atau kriteria. Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama
yakni program pendidikan, proses belajar mengajar dan
hasil-hasil belajar.
Keberhasilan pengajaran tidak hanya
dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi
prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses
belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar siswa tergantung pula pada proses
belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh sebab itu, perlu dilakukan
penilaian terhadap proses belajar-mengajar.
Penilaian proses merupakan penilaian
yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan
belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses
belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola
interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar.
Hasil belajar merupakan hal yang
dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi
siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila
dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut
terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan
dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
PEMBAHASAN
PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
Penilaian adalah proses memberikan
atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu
Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya
ukuran atau kriteria. Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama
yakni program pendidikan, proses belajar mengajar dan
hasil-hasil belajar.
A. PENILAIAN
PROSES BELAJAR
Penilaian proses dilaksanakan saat
proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang
menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar
mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar
mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola
interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar.
Tindak lanjut dari penilaian proses
pembelajaran jika memperoleh hasil yang kurang memuaskan, maka dilakukan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berarti
seorang guru berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses
belajar tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara seagai solusi
permasalahan tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru.
Berbeda halnya dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik
tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) maka solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial.
Tujuan penilaian proses belajar
mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar,
terutama efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai tujuan
pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan
komponen-komponen proses belajarmengajar seperti tujuan pengajaran, metode,
bahan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar guru, dan penilaian.
Penilaian mempunyai sejumlah fungsi
di dalam proses belajar mengajar, yaitu:
1. Sebagai alat
guna mengetahui apakah siswa talah menguasai pengetahuan, nilai-nilai,
norma-norma dan keterampilan yang telah diberikan oleh guru.
2. Untuk
mengetahui kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
3. Mengetahui
tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
4. Sebagai
sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
5. Sebagai alat
untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6. Sebagai
materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
B. PENILAIAN
HASIL BELAJAR
Sudjana (2005) mengatakan bahwa
penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil
belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan
bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian
luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian dan
pengukuran hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar,
terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran
sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
Hasil belajar merupakan hal yang
dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi
siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila
dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut
terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan
dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Hasil belajar merupakan suatu puncak
proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru.
Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak
tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa.
Menurut Woordworth (dalam Ismihyani
2000), hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
proses belajar. Woordworth juga mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan
aktual yang diukur secara langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya
akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah
dicapai.
Dari penjelasan beberapa ahli, dapat
diambil kesimpulan bahwa belajar pada hakekatnya adalah proses perubahan
perilaku siswa dalam bakat pengalaman dan pelatihan.
Penilaian hasil belajar oleh satuan
pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada
semua mata pelajaran. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian
Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan
meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Menentukan
KKM pada setiap mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta
didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi sekolah melalui rapat dewan
pendidik.
2. Mengkoordinasikan
kegiatan ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan
kelas.
3. Menentukan
criteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket
melalui rapat dewan pendidik.
4. Menentukan
criteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem
kredit semester melalui rapat dewan pendidik.
5. Menentukan
nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran
pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan
mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
6. Menentukan
nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata
pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan
pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian pendidik dan nilai hasil ujian
sekolah.
7. Menyelenggarakan
ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian
sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan
pendidikan penyelenggara UN.
8. Melaporkan
hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap
akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan
pendidikan.
9. Melaporkan
pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan
kabupaten/kota. Cara melaporkan pencapaian hasil belajara adalah sebagai
berikut.
1. Menentukan
kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik
sesuai dengan kriteria:
a. Menyelesaikan
seluruh program pembelajaran.
b. Memperoleh
nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok
mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan
dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran
jasmani, olahraga, dan kesehatan.
c. Lulus ujian
sekolah/madrasah.
d. Lulus UN.
2. Menerbitkan
Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta didik yang
mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
3. Menerbitkan
ijazah bagi setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan bagi satuan
pendidikan penyelenggara UN.
TUJUAN
PENILAIAN
Tujuan atau
fungsi penilaian ada beberapa hal:
a) Penilaian
berfungsi selektif
Dengan
mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau
penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunayai berbagai tujuan.,
antara lain:
·
Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah
tertentu.
·
Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau
tingkat berikutnya
·
Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
·
Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan
sekolah, dan sebaliknya
b. Penilaian
berfungsi diagnostic
Dengan
mengadakan penilaian, sebernya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang
kebaikan dan kelmahan-kelmahanya. Dengan diketahui sebab-sebab kelemahan ini,
akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.
c. Penilaian
berfungsi sebagai penempatan
Sistem yang
baru yangkini banyak dipopulerkan dinegara barat, adalah sistem belajar
sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket
belajar, baik berbentuk moul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan
dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemapuan
individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri
sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaiakan dengan pembawaan
yang ada. Akan tetapi diesebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga,
pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar seali dilaksanakan.
Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran
secara kelompok . untuk dapat menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang
siswa harus ditempatkan, digunkan untuk penilaian. Sekelompok siswa yang
mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada alam kelompok yang sama dalam
belajar.
d. Penilaian
berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi
keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana suatu
perogram berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini,
keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode
mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.
Aspek
Penilaian
Tujuan IPA adalah menguasai
pengetahuan IPA, memahami dan menerapkan konsep IPA, menerapkan keterampilan
proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini sejalan dengan tiga aspek
dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di bawah:
1. Penilaian
Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA
2. Penilaian
Keterampilan dan Proses
3. Penilaian
karakter dan sikap (sikap ilmiah)
Penjelasan ketiga jenis penilaian
tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Penilaian
Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA Penilaian pengetahuan IPA
merupakan produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk melihat
penguasaan peserta didik terhadap fakta,konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam
IPA dan penerapannya dalamkehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan
pemahamannyatersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat,
danmenanggapi isu-isu lokal dan global
2. Penilaian
Keterampilan Proses
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap produk,
tetapi juga proses.Penilaian proses IPA dilakukan terhadap keterampilan proses
IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan keterampilan terpadu tingkat awal.
Keterampilanproses IPA dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan
pengukuran,menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di samping
itu,peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan
percobaansederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis
tentanghubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan
hasilbelajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi,
tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai keterampilan proses
ilmiah, berikut adalah enam keterampilan dasar yang perlu dikuasai untuk
peserta didik.
a) Observasi
Penilaian
keterampilan melakukan observasi dinilai pada saat melakukanobservasi dalam
rangka memperoleh data hasil penginderaan terhadap objek dan fenomena alam
menggunakan panca indera. Informasi yang diperoleh menimbulkan rasa ingin tahu,
pertanyaan, interpretasi, dan investigasi.
b) Komunikasi
Keterampilan
berkomunikasi secara ilmiah menggunakan berbagai cara, seperti menggunakan
grafik, carta, peta, simbol, diangram, rumus matematis, dan demonstrasi visual,
baik secara tertulis maupun lisan.
c) Klasifikasi
Keterampilan
melakukan klasifikasi diperlukan untuk mengelompokkan berbagaiobjek untuk
mempermudah mempelajarinya, berdasarkan persamaan,perbedaan, dan saling
keterkaitan obyek.
d) Pengukuran
Keterampilan
melakukan pengukuran menggunakan alat ukur standar untukmelakukan observasi secara kuantitatif, membandingkan, dan
mengklasifikasikan, serta mengkomunikasikan nya secara
efektif. Alat pengukuran meliputi penggaris,meteran, neraca, gelas ukur,
termometer, pH meter, Higrometer, dan sebagainya.
e) Inferensi
Keterampilan
melakukan interpretasi dan menjelaskan kejadian di sekitar kita. Kemampuan ini dibutuhkan antara lain untuk menyusun
hipotesis. Interpretasimenghubungkan pengalaman lampau dengan apa yang sedang
dilihat.
f) Prediksi
Keterampilan
melakukan prediksi ditentukan oleh observasi yang teliti daninferensi untuk
memprediksi apa yang akan terjadi untuk menentukan reaksi yangtepat terhadap
lingkungan.
g) Percobaan
Sederhana
Keterampilan
melakukan percobaan diawali dengan kemampuan menyusunpertanyaan, variabel, mengemukakan hipotesis, mengidentifikasi
variabel kontrol, membuat desain percobaan, melakukan percobaan,mengumpulkan
data, dan interpretasi data.
3. Penilaian
sikap
Penilaian
sikap ilmiah meliputi sikap obyektif, terbuka, tidak menerima begitusaja
sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet, tekun, dan pantang menyerah.
Selain itu, kemampuan bekerjasama,
bertukar pendapat, mempertahankan pendapat, menerima saran, dan kemampuan
sosial lainnya dapat juga dilakukanmelalui pembelajaran IPA
Prinsip
Penilaian
1) Sahih
Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur
pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan.
Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan
alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
2) Objektif
Berarti penilaian berbasis pada standar (prosedur
daan kriteria yang jelas) dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.
Agar penilaian objektif, seorang guru harus berupaya secara optimal untuk
memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dari sejumlah penilaian
dan membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didk
dengan mempertimbangkan hasil kerja peserta didik
3) Terpadu
Berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara
terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan untuk
memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian,
ulangan tengah semester dan ujian kenaikan kelas.
4) Ekonomis
Berati penilaian yang efesien dan efektif dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pelaporannya.
5) Transparan
Berarti prosedur penilaian yang efisien dan efektif dalam
perencanaan, pelaksanaan dan pelaporannya serta dapat diketahui oleh semua
pihak yang berkepantingan.
6) Akuntabel
Berati penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada
pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur dan
hasilnya.
7) Sistematis
Berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan
mengikuti langkah-langkah baku.
8) Beracuan
kriteria
Penilaian hasil belajar oleh guru didasarkan pada standar
penilaian dan ukuran pencapain kompetensi yang telah ditetapkan.
9) Menyeluruh/kmprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam cara
dan alat untuk menilai beragam kompetensiatau kemampuan peserta didik sehingga
tergampar kemampuan peserta didik.
10)
Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses prmbelajaran bagi
guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.
Standar Penilaian Pendidikan Ipa
Penilaian
pembelajaran IPA di sekolah hendaknya mengacu pada suatu standar yang
ditetapkan baik secara nasional maupun internasional. National Research Council dalam National
Committee on Science Education Standards and Assessment (1996), telah
menetapkan National Science Education
Standards (NSES), suatu standar bagi
pendidik dalam menilai pendidikan IPA di semua level pendidikan. Standar
nasional pendidikan IPA versi NRC ini berisi
standar konten IPA, standar pedagogi dalam mengajar
IPA, standar profesi,
standar program, standar asesmen, dan standar sistem. Mutu pendidikan
IPA yang baik, harusmemenuhi semua standar tersebut.
Penilaian
standar memberikan kriteria untuk menilai kemajuan menuju visi pendidikan IPA
pada literasi sains untuk semua. Standar yang
menggambarkan kualitas praktek penilaian yang digunakan oleh guru danlembaga
pemerintah untuk mengukur prestasi dan memberikan kesempatankepada siswa untuk
belajar IPA. Panduan untuk mengembangkan
penilaian, praktek, dan kebijakan. Standar ini
dapat diterapkan untuk penilaian
siswa, guru, program formatif dan sumatif, dan penilaian eksternal. Sebagai mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan
sains.
Standar Penilaian IPA
Latar
belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan
masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang
dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan
kriteria untuk menentukan kualitas praktik-pratik
penilaian. Standar penilaian
meliputi lima bidang sebagai berikut:
1. Konsistensi
penilaian dengan suatu keputusan merupakan
desain untuk informasi
2. Penilaian
prestasi dan kesempatan untuk belajar sains
3. Mencocokkan
antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang perlu
dilakukan berbasis data tersebut
4. Kejujuran
dalam praktik penilaian
5. Ketepatan
penarikan kesimpulan berdasarkan penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan
untuk belajar.
Dalam
visi yang dijelaskan oleh National
Science Education Standards, penilaian adalah mekanisme umpan balik utama dalam
sistem pendidikan sains. Standar penilaian menyediakan
siswa dengan umpan balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru
dengan umpan balik tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan
umpan balik tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan
dengan umpan balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini
pada gilirannya merangsangperubahankebijakan, memandu pengembangan profesional
guru, dan mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.
Dari
ulasan diatas penulis ingin mengajukan 3 pertanyaan sebagai berikut
1.
Bagaimana seorang guru melalukan proses penilaian terhadap siswa dikelas ?
2.
Apakah ada kesulitan bagi seorang guru dalam melakukan system penilaian pada
proses pembelajaran sains, jikalau ada, apa kesulitan yang anda alami dan bagaimana cara anda untuk menyikapi kesulitan yang anda hadapi?
3. Pada pembelajaran sains point-point atau ketrampilan
apa saja yang akan di nilai oleh seorang guru dan bagaimana cara guru memanajemen waktu agar dapat melaksanakan penilaian dengan baik?
Saya akan membahas poin ke 2, pas akan ada kesulitan dalam melakukan penilaian terutama dalam meniai keterampilan dan tes lisa, kesulitan biasanya terjadi karena banyaknya peserta didik dalam satu kelas.
BalasHapusTerimakasih saudara humaira atas tanggapannya..
HapusJumlah siswa dalam satu kelas bisa jadi menjadi suatu kedala tersendiri dalam menilai siswa. Lalu menurut anda bagaimana cara yang efektif agar penilaian tetap dapat dilakukan dengan objektif..
Lalu bagaimana jika kesulitan itu tidak hadir dr jumlah siswa yag banyak namun dari sistem penilaian yang dituntut kurikulum yang menyulitkan?
Terimakasih
menurut saya, penilaian dilakukan dengan apa adanya tanpa membeda-bedakan peserta didik yg pintar atau kurang pintar,
Hapussementara sistem penilaian yg dituntut kurikulum yg menyulitkan dapat diatasi dengan mengikuti acara penyuluhan kurikulum
Saya mencoba menjawab soal no 1
BalasHapuspenilaian siswa harus memenuhi sense of harmony dimana terjadi keselarasan, keserasian, dan keseimbangan. Ketika itu telah terjadi dalam standar penilaian di sekolah, maka siswa akan merasakan keadilan dari nilai yang diberikan oleh guru.
Terimakasih
soal 2. sebagian besar guru kesulitan dalam membuat perencanaan penilaian pada aspek sikap, sebagian besar guru kesulitan dalam menganalisis penilaian, sebagian besar guru kesulitan dalam mengolah penilaian dengan menggunakan aplikasi berupa microsof excel.
BalasHapusLalu menurut saudari Bestia bagaimana solusi terbaik dalam menghadapi permsalahan ini.?
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang cara seorang guru melalukan proses penilaian terhadap siswa dikelas yaitu dengan Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan tingkah laku. penilaian berhubungan dengan 3 ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor.
BalasHapusTerimakasih atas ulasan anda, semoga bermanfat untuk pembaca yang lain.
HapusMenjawab soal nomor 1 penilaian Itu banyak macamnya.dan bisa dari individu dan kelompok siswa bisa melalui media .produk.dan fortopolio Dll ...
BalasHapusArtikel yang sangat menarik saudari susanti. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2.Apakah ada kesulitan bagi seorang guru dalam melakukan system penilaian pada proses pembelajaran sains, jikalau ada, apa kesulitan yang anda alami dan bagaimana cara anda untuk menyikapi kesulitan yang anda hadapi? BagianPenilaian keterampilan dan sikap merasa kesulitan karena begitu banyaj siswa dalam satu kelas. Sehingga sebagian bisa luput dari pantauan guru. Terima kasih
BalasHapusMenurut anda bagaimana solusi terbaik mengatasi permasalahan tersebut..?
HapusUntuk pertanyaan ibuk no 1 sysangat tertarik untuk membahasnya.
BalasHapusPenilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan tingkah laku. penilaian berhubungan dengan 3 ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor.
Baiklah sya aakn menanggapi soal no 2.
BalasHapusKesulitan yg dialami guru saat melakukan penilaian adalah pada penilaian sikap dimana gru hrus menilai msing"sikap siswa sementara didlm kls itu jumlah siswa lebih bnyk, dan jg guru akan kesulitan menilai pengetahuan bagi siswa yg kurang aktif.
Baikalah saya akan menanggapi pertanyaan nomor 1....
BalasHapusMenurut saya Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan tingkah laku. penilaian berhubungan dengan 3 ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor.
Terimakasih atas jawaban anda saudari novia.. Bermanfaat.
HapusSaya mencoba menjawab pertanyaan no 1. Ada beberapa penilaian yg dpt diambil pd proses pembelajaran di kelas yaitu penilaian kognetif, psikomotor dan afektif serta penilaian diri dan tmn sejawat . Tinggal dipilih berdasarkan keperluan tujuan pembelajaran. Trims
BalasHapusTerimakasih atas ulasan anda.
HapusSemoga bermanfaat.
SETUJU BANGEEET
BalasHapuspenilaian kognetif, psikomotor dan afektif harus dilakukan
jangan hanya fkus 1 penilaian saja
Terimakasih atas ulasan anda,semoga menjadi salah satu referensi penilaian.
Hapus