
Model pembelajaran
merupakan kerangka berpikir yang menjadi panduan guru untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan pembelajaran dikelasnya. Oleh karena itu setiap model
pembelajaran harus memiliki dukungan teoritik yang kuat dan sintaks atau tahapan
implementasinya serta manajemen kelas yang diperlukan untuk berlangsungnya
model pembelajaran itu.
Selain memperhatikan rasional
teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran
memiliki lima unsur dasar (Joyce & Weil (1980) dalam Petra Nanda 2018,
yaitu:
(1) Syntax, yaitu langkah-langkah
operasional pembelajaran,
(2) Social system, adalah
suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran,
(3) Principles of reaction,
menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang,memperlakukan, dan
merespon siswa,
(4) Support system, segala
sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan
(5)Instructional dan nurturant
effects—hasil belajar yang diperoleh
langsung berdasarkan tujuan yang
disasar (instructional effects) dan hasil belajar diluar yang disasar
(nurturant effects).
Model pembelajaran merupakan
bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Ada
banyak model pembelajaran dan beberapa yang disarankan di dalam kurikulum 2013
untuk pembelajaran sains diantaranya adalah:
1. Model Pembelajaran Discovery
Model penemuan terbimbing
adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri sehingga dapat
”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari
guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan ciri utama belajar
menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan,
menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3)
kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah
ada.
Adapun langkah-langkah
pembelajaran model Discovery Learning adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan dari
pembelajaran
2. Menganalisis/mengidentifikasi
karakterisitik para siswa
3. Memilih materi pelajaran
4. Menentukan topik - topik yang
harus dipelajari oleh peserta didik secara induktif
5. Mengembangkan suatu bahan
belajar yang berupa ilustrasi, contoh - contoh, atau tugas
6. Mengorganisir topik - topik
pembelajaran dari yang sederhana ke yang lebih kompleks
7. Melakukan penilaian hasil
belajar dan proses.
2. Model Pembelajaran Inkuiri
Menurut Piaget model
pembelajaran inquiri adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada
situasi untuk melakukan eksperimen sendiri: dalam arti luas ingin
melihat apa yang terjadi, atau ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan
simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan
penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang di
temukan dengan yang di temukan orang lain.
Langkah-langkah model
pembelajaran Inkuiri ;
1. Orientasi terhadap masalah
2. Merumuskan masalah
3. Mengajukan hipotesis
4. Mengumpulkan informasi (data)
5. Menguji hipotesis
6. Menyimpulkan
3. Model Pembelajaran
Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)
Esensi dari pembelajaran
berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme
dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat
dalam pemecahan masalah yang kontekstual.
Langkah-langkah model
pembelajaran PBL :
1. Mengorientasikan Siswa
pada Masalah
2. Mengorganisasikan Siswa
untuk Belajar
3. Membantu Penyelidikan
Mandiri dan Kelompok
4. Mengembangkan dan
Menyajikan Artefak (Hasil Karya) dan Mempamerkannya
5. Analisis dan Evaluasi
Proses Pemecahan Masalah
4. Project Based Learning
Model (Model Pembelajaran Berbasis Proyek)
Pembelajaran
berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menghasilkan produk atau proyek yang
nyata dimana proyek yang dibuat oleh siswa mendorong berbagai kemampuan tidak
hanya pengetahuan atau masalah teknis, tetapi juga keterampilan praktis seperti
mengatasi informasi yang tidak lengkap atau tidak tepat; menentukan tujuan
sendiri; dan kerjasama kelompok (Sutirman, 2013) dalam Irwan Novi (2016).
Pembelajaran Berbasis
Proyek (Project Based Learning) adalah pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta didik menggunakan masalah
sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru
berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.
Langkah-langkah model
pembelajaran berbasis proyek :
1. Penentuan Pertanyaan
Mendasar (Start With the Essential Question)
2. Mendesain Perencanaan
Proyek (Design a Plan for the Project)
3. Menyusun Jadwal (Create
a Schedule)
4. Memonitor peserta didik
dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
5. Menguji Hasil (Assess
the Outcome)
6. Mengevaluasi
Pengalaman (Evaluate the Experience)
Ditinjau dari
cara memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit tematisnya,
menurut Robin Fogarty (1991) terdapat sepuluh cara atau model dalam
merencanakan pembelajaran terpadu yang khas dengan pembelajaran sains.
Kesepuluh cara atau model tersebut adalah: (1) fragmented, (2) connected,
(3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed,
(7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10) networked.
1. Model Penggalan (Fragmented)
Model fragmented ditandai
oleh ciri pemaduan yang hanya terbatas pada satu mata pelajaran saja.
Misalnya, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, materi pembelajaran tentang
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dipadukan dalam materi
pembelajaran keterampilan berbahasa. Dalam proses pembelajarannya, butir-butir
materi tersebut dilaksanakan secara terpisah-pisah pada jam yang berbeda-beda.
Menurut Padmono dalam
bukunya Pembelajaran Terpadu melalui Kurikulum Terpadu dalam Satu
Disiplin Ilmu, mengatakan bahwa pembelajaran terpadu melalui kurikulum terpadu
fragmented terjadi jika seorang guru memiliki keinginan agar siswa setelah
menempuh pembelajaran satu kurun waktu tertentu memiliki kemampuan atau
kecakapan tertentu.Kelebihan pembelajaran model ini adalah siswa menguasai
secara penuh satu kemampuan tertentu untuk tiap mata pelajaran, ia ahli dan
terampil dalam bidang tertentu. Sedangkankekurangannya adalah Ia belajar
hanya pada tempat dan sumber belajar dan kurang mampu membuat hubungan atau
integrasi dengan konsep sejenis.
2. Model
Keterhubungan (Connected)
Model connected dilandasi
oleh anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk
mata pelajaran tertentu. Butir-butir pembelajaran kosakata, struktur, membaca
dan mengarang misalnya, dapat dipayungkan pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Penguasaan butir-butir pembelajaran tersebut merupakan keutuhan
dalam membentuk kemampuan berbahasa dan bersastra. Hanya saja pembentukan
pemahaman, keterampilan dan pengalaman secara utuh tersebut tidak berlangsung
secara otomatis. Karena itu, guru harus menata butir-butir pembelajaran dan
proses pembelajarannya secara terpadu.
Kelebihan yang diperoleh
dalam model connected ini adalah adanya hubungan antar ide-ide dalam satu mata
pelajaran, anak akan memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep
yang dijelaskan dan siswa diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan,
memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap. Kekurangan dalam
model ini, model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum
menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
3. Model Sarang (Nested)
Model nested merupakan
pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan
pembelajaran. Misalnya, pada satuan jam tertentu seorang guru memfokuskan
kegiatan pembelajaran pada pemahaman tata bentuk kata, makna kata, dan ungkapan
dengan saran pembuahan keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya
berpikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat
ungkapan dan menulis puisi. Pembelajaran berbagai bentuk penguasaan konsep dan
keterampilan tersebut keseluruhannya tidak harus dirumuskan dalam tujuan
pembelajaran.
Keterampilan dalam mengembangkan
daya imajinasi dan berpikir logis dalam hal ini disikapi sebagai bentuk
keterampilan yang tergarap saat siswa memakai kata-kata, membuat ungkapan dan
mengarang puisi. Penanda terkuasainya keterampilan tersebut dalam hal ini
ditunjukkan oleh kemampuan mereka dalam membuat ungkapan dan mengarang puisi.
Kelebihan model ini yaitu
guru dapat memadukan beberapa keterampilan sekaligus dalam pembelajaran satu
mata pelajaran, memberikan perhatian pada berbagai bidang penting dalam satu
saat sehingga tidak memerlukan penambahan waktu dan guru dapat memadukan
kurikulum secara luas. Kekurangannya adalah apabila taanpa
perencanaan yang matang memadukan beberapa keterampilan yang menjadi targget
dalam suatu pembelajaran akan berdampak pada siswa dimana prioritas pelajaran
menjadi kabur.
4. Model
Urutan/Rangkaian (Sequenced)
Model sequenced merupakan
model pemaduan topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel.
Isi cerita dalam roman sejarah misalnya, topik pembahasannya secara paralel
atau dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan
bangsa, karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun
topik yang menyangkut perubahan makna kata. Topik-topik tersebut dapat
dipadukan pembelajarannya pada alokasi jam yang sama.
Kelebihannya yaitu dengan
menyusun kembali urutan topik, bagian dari unit, guru dapat mengutamakan
prioritas kurikulum daripada hanya mengikuti urutan yang dibuat penulis dalam
buku teks, membantu siswa memahami isi pembelajaran dengan lebih kuat dan
bermakna. Sedangkan kekurangannya yaitu diperlukkan kolaborasi
berkelanjutan dan fleksibilitas semua orang yang terlibat dalam content
area dalam mengurutkan sesuai peristiwa terkini.
5. Model Bagian (Shared)
Model shared merupakan
bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya “overlapping” konsep atau ide
pada dua mata pelajaran atau lebih. Butir-butir pembelajaran tentang
kewarganegaraan dalam PPKN misalnya, dapat bertumpang tindih dengan butir
pembelajaran dalam Tata Negara, PSPB, dan sebagainya.
Kelebihannya yaitu lebih
mudah dalam menggunakannya sebagai langkah awal maju secara penuh menuju model
terpadu yang mencakup empat disiplin ilmu, dengan menggabungkan disiplin ilmu
serupa yang saling tumpang tindih akan memungkinkan mempelajari konsep yang
lebih dalam. Sedangkan kekurangannya yaitu model integrasi antar dua
disiplin ilmu memerlukan komitmen pasangan untuk bekerjasama dalam fase awal,
untuk menemukan konsep kurikula yang tumpang tindih secara nyata diperlukan
dialog dan percakapan yang mendalam.
6. Model Jaring
Laba-laba (Webbed)
Model Webbed yang
paling populer. Model ini bertolak dari pendekatan tematis sebagai
pemadu bahan dan kegiatan pembelajaran. Dalam hubungan ini tema dapat mengikat
kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran tertentu maupun lintas mata
pelajaran.
Kelebihan pendekatan jaring
laba-laba untuk mengintegrasikan kurikulum adalah faktor motivasi sebagai hasil
bentuk seleksi tema yang menarik perhatian paling besar, faktor motivasi siswa
juga dapat berkembang karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat
siswa. Sedangkan kekurangan model ini adalah banyak guru sulit
memilih tema. Mereka cenderung menyediakan tema yang dangkal sehingga kurang
bermanfaat bagi siswa, dan guru seringkali terfokus pada kegiatan sehingga
materi atau konsep menjadi terabaikan.
7. Model Galur/
benang(Threaded)
Model threaded merupakan
model pemaduan bentuk keterampilan misalnya, melakukan prediksi dan
estimasi dalam matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi
terhadap cerita dalam novel, dan sebagainya. Bentuk threaded ini berfokus pada
apa yang diesbut meta-curriculum.
Kelebihan dari model ini
antara lain: konsep berputar sekitar metakurikulum yang menekankan pada
perilaku metakognitif; materi untuk tiap mata pelajaran tetap murni, dan siswa
dapat belajar bagaimana seharusnya belajar di masa yang akan datang sesuai
dengan laju perkembangan era globalisasi. Sedangkan kekurangan yaitu
hubungan isi antar materi pelajaran tidak terlalu ditunjukkan sehingga secara
eksplisit siswa kurang dapat memahami keterkaitan konten antara mata pelajaran
satu dengan yang lainnya.
8. Model
Keterpaduan (Integrated)
Model integrated merupakan pemaduan
sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam
sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula terdapat dalam mata pelajaran
Matematika, Bahasa Indonesia, Pengetahuan Alam, dan Pengetahuan Sosial, agar
tidak membuat muatan kurikulum berlebihan cukup diletakkan dalam mata pelajaran
tertentu, misalnya Pengetahuan Alam. Contoh lain, dalam teks membaca yang
merupakan bagian mata pelajaran.
Bahasa Indonesia, dapat
dimasukkan butir pembelajaran yang dapat dihubungkan dengan Matematika,
Pengetahuan Alam, dan sebagainya. Dalam hal ini diperlukan penataan area isi
bacaan yang lengkap sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai
butir pembelajaran dari berbagai mata pelajaran yang berbeda tersebut. Ditinjau
dari penerapannya, model ini sangat baik dikembangkan di SD.
Kelebihan dari model ini
yaitu siswa saling mengaitkan, saling menghubungkan diantara macam-macam bagian
dari mata pelajaran. Keterpaduan secara sukses diimplementasikan, pendekatan
belajar yang lingkungan belajar yang ideal untuk hari terpadu (integrated day)
secara eksternal dan untuk keterpaduan belajar untuk fokus internal. Selain itu
model ini juga mendorong motivasi murid. Sedangkan kekurangan yaitu
model ini sulit dilaksanakan secara penuh; membutuhkan keterampilan
tinggi,percaya diri dalam prioritas konsep, keterampilan dan sikap yang
menembus secara urut dari mata pelajaran; dan membutuhkan model tim ahli pada
bidang dan merencanakan dan mengajar bersama.
9. Model
Celupan/Terbenam (Immersed)
Model immersed dirancang
untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan
pengetahuan dihubungkan dengan medan pemakaiannya. Dalam hal ini tukar
pengalaman dan pemanfaatan pengalaman sangat diperlukan dalam
kegiatan pembelajaran.
Kelebihan dari model ini
adalah setiap siswa mempunyai ketertarikan mata pelajaran yang berbeda maka
secara tidak langsung siswa yang lain akan belajar dari siswa lainnya. Mereka
terpacu untuk dapat menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya.
Sedangkan kekurangan dari model ini adalah siswa yang tidak senang
membaca akan mendapat kesulitan untuk mengerjakan proyek ini, sehingga siswa
menjadi kehilangan minat belajar.
10. Model Jaringan
(Networked)
Terakhir, model networked merupakan
model pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan pengubahan
konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru
setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks
yang berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara terus-menerus
karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang
dihadapi siswa. Kelebihan dari model ini adalah siswa memperluas
wawasan pengetahuan pada satu atau dua mata pelajaran secara mendalam dan
sempit sasarannya. Sedangkan kekurangannya adalah kemungkinan
motivasi siswa akan berubah kedalaman materi pelajaran menjadi dangkal secara
tidak sengaja karena mendapat hambatan dalam mencari sumber.
Diskusi
1. Dari model
pembelajaran diatas yang mana lebih cocok di gunakan dalam pembelajaran sains
khususnya untuk Kurikulum 2013 ?
2. Pada proses pembelajaran yang
telah anda lakukan dikelas. Model apakah yang sering anda gunakan? Mengapa anda
memilih model tersebut dibandingkan dengan model-model pembelajaran yang lain.
3. Semua model pembelajaran yang
telah dibahas, membutuhkan pengalaman dan pemahaman yang cukup pada pengajar.
Bagaimana tips untuk pera pengajar pemula agar mampu merealisasikan model-model
pembelajaran di kelas-kelas yang mereka ampu ?
4. Model-model pembelajaran yang
telah diulas pada pembahasan diatas memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Bagaimana cara yang dapat digunakan untuk mengkombinasikan atau
menginovasi berbagai model pembelajaran hingga menghasilkan pembelajaran yang
berkualitas dengan hasil yang berkualitas pula ?
Menurut saya untuk pertanyaan no 3 sebelum kita memilih suatu model kita harus tau karakteristik siswa yg ada dlm kelas tsb sehingga dpt memilih model yg tepat.oleh sebab itu penting sekali bagi seorang guru memahami dan memiliki wawasan tentang banyak jenis model pembelajaran.
BalasHapusTermakasih atas ulasan anda saudari Bestia.Apakah cukup hanya dengan memahami karakteristik siswa maka kita sebagai seorang pendidik akan mampu meng"create" pembelajaran dengan menggunakan model yang tepat.
BalasHapusAssalamualaikum.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan no1. Dari semua model di atas dapat digunakan di kurikulum K13? beri penjelasan
Mnurut saya. Ya.semuanya Bisa d gunakan d K13. Seperti yg kitaketahui bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi yang mewajibkan anak untuk aktif dalam pembelajaran. Dan model d atas merupakan model yg menuntut anak untuk menjadi aktif dlm memecahkan masalah.tergantung materi nya cocok menggunakan model yang mana.
Terimasih
Terimakasih atas ulasannya saudari Wildah..
HapusBerdasarkan jawaban anda saya dapat menarik kesimpulan bahwa penggunaan model tergantung pada materinya. Apakah salah satu pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran hanya materi saja..? adakah faktor penentu yang lain ?
menurut saya bukan hanya materi saja tetapi metode, teknik, dan media apa yang akan digunakan
HapusTerimakasih atas tembahan jawabn dari saudara reni, semoga bermanfaat untuk rekan rekan yang lain.
HapusAssalamualaikum
BalasHapusArtikel yang sangat menarik, saya akan menanggapi pertanyaan nomor 2:
model yang sudah saya lakukan adalah Problem Based Learning, Discovery Learning, Number Head Together, Jigsaw, Direct instruction, pembelajaran kontekstual/ bermakna.
saya belum pernah melaksanakan pembelajaran terpadu seperti yang ada pada artikel anda, karena beberapa pembelajaran terpadu memerlukan koordinasi dengan guru matapelajaran lain mengenai materi yang akan diajarkan. sedangkan setiap matapelajaran telah memiliki target pembelajaran tersendiri.
Waalaikumsalam,,
HapusTerimakasih atas ulasan saudara..
Saya tertarik dengan penjelasan anda mengenai pengalaman anda dalam menggunakan berbagai model pembelajaran dalam KBM. Dari beberapa model pembelajaran yang pernah anda lakukan,manakah model yang paling anda sukai sebagai seorang guru, dan model manakah yang membuat siswa siswi anda tertarik untuk mengikuti pembelajaran?
Semua model yang meningkatkan aktifitas siswa sangat diminati.Siswa sangat antusias mengikuti ooembelajaran yang ada kegiatan praktikumnya
HapusAssalamu alaikum, baik saya akan membahas nomor 1, pemilihan model pembelajaran berdasarkan dengan karakter materi, kemampuan siswa, dan waktu yang tersedia
BalasHapusJadi setiap model tergantung dari ke 3 faktor tersebut. Jika sesuai digunakan jika tidak sesuai cari model pembelajaran yanh lain.
Terimakasih atas jawabannya saudara humairah.
Hapusmenurut pengalaman mengajar anda, model apa yang menarik anda dan menurut anda cukup berhasil untuk diterapkan dalam proses pembelajaran?
Saya mencoba menjawab pertanyaan no 1
BalasHapusSaya sependapat dgn kak humairoh. Bahwasanya model ygbakan guru gunakan d saat proses pembelajaran harus d sesuaikan dgn materi yg akan d ajarkan.
Terimakasih
Terimakasih atas tanggapannya saudara Selvi semoga menjadi referensi berfikir dan bertindak dalam menunjang keberhasilan ananda di kelas.
Hapussaya akan mencoba menjawab no 1 sebelum melaksanakan pembelajaran kita harus meihat materi apa yang dipelajari dan menyesuaikan dengan model yang akan dilaksanakan. jika memungkinkan model tersebut dilaksakan dn kecocokannya sudah pas maka model tersebut dapat kita pilih.
BalasHapusTerimakasih saudari fitri ulasan yang bermanfaat..
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang model pembelajaran diatas yang lebih cocok di gunakan dalam pembelajaran sains khususnya untuk Kurikulum 2013 yaitu tergantung dengan materi yang akan disampaikan karena kesesuaian antara model dan materi dapat menunjang ketuntasan belajar siswa.
BalasHapusTerimaksih ulasannya saudara rahayu, bagaimana anda menangapi pernyataan saudari Reni mengenai beberapa faktor lain selain materi yang diajarkan.
HapusArtikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 4. Model-model pembelajaran yang telah diulas pada pembahasan diatas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaimana cara yang dapat digunakan untuk mengkombinasikan atau menginovasi berbagai model pembelajaran hingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dengan hasil yang berkualitas pula ? Guru bisa mengkombinasikan model pembelajaran disesuaikan dengan materi pembelajaran. Supaya tercapainya pembelajaran yang berkualitas. Terima kasih
BalasHapusTerimakasih atas tanggapannya saudari Rohana.. Saya tertarik dengan ulasan anda. Guru harus lebih mampu mempersiapkan pembelajaran dengan baik dengan mengkombinasi model sesuai dengan tuntutan.. Kreativitas tentu sangat dibutuhkan.
HapusMenurut sya cocok tdknya model pembelajaran tergntung kepda materi yang akan digunakan oleh guru dlm proses kbm yg berlangsung.
BalasHapusTerimakasih untuk postingan yg menarik ini
BalasHapusMenurut saya baik tidaknya model tergantung dgn sebarapa efektif model tersebut mencapai tujuan pembelajaran.
BalasHapus