Total Tayangan Halaman

Kamis, 20 September 2018

PEMBELAJARAN ABAD 21


Gambar terkait


Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan sains dan teknologi dalam bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Mengacu pada pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan yang semakin berat, salah satunya tantangan tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan utuh dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Dalam kerangka mempersiapkan manusia abad 21 yang hidup dalam nuansa masyarakat pengetahuan dan mega kompetisi dengan gelombang perubahan yang sedemikian cepat, dibutuhkan suatu model pembelajaran yang tidak saja bersifat deduktif tetapi juga induktif. Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja dan bertahan dengan menguasaisejumlah keterampilan untuk hidup (life skills).
Pendidikan Nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya (BSNP, 2010).
Pembelajaran di abad 21 ini memiliki perbedaan dengan pembelajaran di masa yang lalu. Dahulu, pembelajaran dilakukan tanpa memperhatikan standar, sedangkan kini memerlukan standar sebagai acuan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Melalui standar yang telah ditetapkan, guru mempunyai pedoman yang pasti tentang apa yang diajarkan dan yang hendak dicapai. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah gaya hidup manusia, baik dalam bekerja, bersosialisasi, bermain maupun belajar.
KETERAMPILAN ABAD KE-21
Berbagai organisasi mencoba merumuskan berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi abad ke-21.
Wagner (2010) dan Change Leadership Group dari Universitas Harvard mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 ditekankan pada tujuh (7) keterampilan berikut: (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan berjiwa entrepeneur, (5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, (6) mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.
US-based Apollo Education Group mengidentifikasi sepuluh (10) keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk bekerja di abad ke-21, yaitu keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, produktifitas dan akuntabilitas, inovasi, kewarganegaraan global, kemampuan dan jiwa entrepreneurship, serta kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mensintesis informasi (Barry, 2012). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh OECD didapatkan deskripsi tiga (3) dimensi belajar pada abad ke-21 yaitu informasi, komunikasi, dan etika dan pengaruh sosial (Ananiadou & Claro, 2009). Kreativitas juga merupakan salah satu komponen penting agar dapat sukses menghadapi dunia yang kompleks.
US-based Partnership for 21st Century Skills (P21), mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 yaitu “The 4Cs”- communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Kompetensi-kompetensi tersebut penting diajarkan pada siswa dalam konteks bidang studi inti dan tema abad ke-21. Assessment and Teaching of 21st Century Skills (ATC21S) mengkategorikan keterampilan abad ke-21 menjadi 4 kategori, yaitu way of thinking, way of working, tools for working dan skills for living in the world (Griffin, McGaw & Care, 2012). Way of thinking mencakup kreativitas, inovasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan. Way of working mencakup keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi dan bekerjasama dalam tim. Tools for working mencakup adanya kesadaran sebagai warga negara global maupun lokal, pengembangan hidup dan karir, serta adanya rasa tanggung jawab sebagai pribadi maupun sosial. Sedangkan skills for living in the world merupakan keterampilan yang didasarkan pada literasi informasi, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi baru, serta kemampuan untuk belajar dan bekerja melalui jaringan sosial digital.
Delors Report dalam Zubaidah (2016) dari International Commission on Education for the Twenty-first Century, mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan, pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar pendidikan yaitu learning to know, lerning to do, learning to be dan learning to live together. Kerangka pemikiran ini dirasa masih relevan dengan kepentingan pendidikan saat ini dan dapat dikembangkan sesuai dengan keperluan di abad ke-21 (Scott, 2015b). Pada bagian berikut dijelaskan sekilas tentang kompetensi dan keterampilan sesuai empat pilar pendidikan yang terdapat pada Delors Report.
Learning to Know
Penguasaan materi merupakan salah satu hal penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat. Siswa harus siap untuk selalu belajar ketika menghadapi situasi baru yang memerlukan keterampilan baru. Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya lebih menekankan pada tema pembelajaran interdisipliner. Empat tema khusus yang relevan dengan kehidupan modern adalah: 1) kesadaran global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; 3) literasi kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan.
Learning to Do
Keterampilan berpikir kritis
Keterampilan ini merupakan keterampilan fndamental pada pembelajaran di abad ke-21. Keterampilan berpikir kritis mencakup kemampuan mengakses, menganalisis, mensintesis informasi yang dapat dibelajarkan, dilatihkan dan dikuasai. Keterampilan berpikir kritis juga menggambarkan keterampilan lainnya seperti keterampilan komunikasi dan informasi, serta kemampuan untuk memeriksa, menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi bukti.
Kemampuan menyelesaikan masalah
Keterampilan memecahkan masalah mencakup keterampilan lain seperti identifikasi dan kemampuan untuk mencari, memilih, mengevaluasi, mengorganisir, dan mempertimbangkan berbagai alternatif dan menafsirkan informasi. Seseorang harus mampu mencari berbagai solusi dari sudut pandang yang berbeda-beda, dalam memecahkan masalah yang kompleks. Pemecahan masalah memerlukan kerjasama tim, kolaborasi efektif dan kreatif dari guru dan siswa untuk dapat melibatkan teknologi, dan menangani berbagai informasi yang sangat besar jumlahnya, dapat mendefinisikan dan memahami elemen yang terdapat pada pokok permasalahan, mengidentifikasi sumber informasi dan strategi yang diperlukan dalam mengatasi masalah
Komunikasi dan kolaborasi
Kemampuan komunikasi yang baik merupakan keterampilan yang sangat berharga di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Kemampuan komunikasi mencakup keterampilan dalam menyampaikan pemikiran dengan jelas dan persuasif secara oral maupun tertulis, kemampuan menyampaikan opini dengan kalimat yang jelas, menyampaikan perintah dengan jelas, dan dapat memotivasi orang lain melalui kemampuan berbicara. Kolaborasi dan kerjasama tim dapat dikembangkan melalui pengalaman yang ada di dalam sekolah, antar sekolah, dan di luar sekolah
Kreativitas dan inovasi
Pencapaian kesuksesan profesional dan personal, memerlukan keterampilan berinovasi dan semangat berkreasi. Kreativitas dan inovasi akan semakin berkembang jika siswa memiliki kesempatan untuk berpikir divergen.
Literasi informasi, media, dan teknologi
Literasi informasi yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi sangat penting dikuasai pada saat ini. Literasi informasi memiliki pengaruh yang besar dalam perolehan keterampilan lain yang diperlukan pada kehidupan abad ke-21. Seseorang yang berkemampuan literasi media adalah seseorang yang mampu menggunakan keterampilan proses seperti kesadaran, analisis, refleksi dan aksi untuk memahami pesan alami yang terdapat pada media.
Literasi informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT)
Kemampuan literasi ICT mencakup kemampuan mengakses, mengatur, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui penggunaan teknologi komunikasi digital. Literasi ICT berpusat pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam mempertimbangkan informasi, media, dan teknologi di lingkungan sekitar.
Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan yang penting bagi seorang siswa namun bukan merupakan satu-satunya keterampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang memiliki kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang berkualitas dan beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi kegagalan serta konflik dan krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi masalah sulit di abad ke-21. Secara khusus, generasi muda harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Keterampilan sosial dan lintas budaya
Memiliki keterampilan sosial yang baik dapat membantu siswa untuk membuat sebuah keputusan dengan baik. Keterampilan sosial yang baik pada anak-anak dan remaja dapat mempengaruhi kinerja akademis mereka, sikap, hubungan sosial dan keluarga, dan keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Tanggung jawab pribadi, pengaturan diri, dan inisiatif
Tingginya tingkat interaksi dan kerja sama tim dalam lingkungan kerja di abad ke-21 diharapkan dapat diantisipasi dengan meningkatkan kualitas pribadi siswa. Kemampuan pengaturan diri adalah jantung dari pembelajaran abad ke-21. Siswa yang mandiri bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri dan bersedia meningkatkan kemampuan sepanjang kariernya. Herring (2012) berpendapat bahwa siswa yang mandiri mendapatkan motivasi dari dalam dirinya sendiri. Siswa mandiri paham bahwa semangat belajar adalah kemampuan dasar yang akan membuat mereka berhasil di tempat kerja.
Keterampilan berpikir logis
Generasi muda saat ini hidup di dunia yang lebih menantang, sehingga mereka perlu mengembangkan kemampuan berpikir logis terhadap isu-isu global yang kompleks dan penting. Mereka harus siap untuk mengatasi berbagai masalah, termasuk konflik manusia, perubahan iklim, kemiskinan, penyebaran penyakit dan krisis energi. Sekolah harus menyediakan berbagai peluang, bimbingan dan dukungan agar siswa memahami peran dan tanggung jawabnya di dunia nyata, serta mengembangkan kompetensi yang memungkinkan mereka untuk memahami situasi dan lingkungan baru.
Keterampilan metakognitif
Metakognisi didefinisikan sebagai 'thinking about thinking'. Seseorang yang memiliki pengetahuan metakognitif berarti menyadari berapa banyak mereka memahami topik pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman mereka. Keterampilan metakognitif dapat meningkatkan pembelajaran dan pemahaman siswa. Beberapa langkah penting untuk mengajarkan keterampilan metakognitif sebagai berikut: (a) ajarkan kepada siswa bahwa belajar itu tidak terbatas jumlahnya dan kemampuan seseorang untuk belajar dapat diubah, (b) ajarkan bagaimana menetapkan tujuan belajar dan merencanakan pencapaiannya, dan (c) berikan siswa banyak kesempatan untuk berlatih memantau kegiatan belajarnya secara akurat.
Kemampuan berpikir berwirausaha
Kreativitas dan berpikir kewirausahaan juga merupakan keterampilan esensial di abad ke-21.
Pertumbuhan lapangan pekerjaan yang cepat dan industri yang sedang berkembang membutuhkan kreativitas pekerja, termasuk kemampuan untuk berpikir yang tidak biasa (out of the box), memikirkan kebijakan konvensional, membayangkan skenario baru dan menghasilkan karya yang menakjubkan.
Belajar untuk belajar dan kebiasaan belajar sepanjang hayat
Sepanjang hidupnya, seseorang akan selalu menemukan informasi baru yang mengubah pengetahuan yang dimilikinya. Bolstad (2011) berpendapat bahwa sekolah yang berorientasi masa depan harus memperluas kapasitas intelektual siswa dan memperkuat kemauan dan kemampuan mereka untuk terus belajar sepanjang hidup.
Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa siswa yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada siswa yang bekerja secara individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan pencapaian belajar mereka dan menjadi pemikir kritis.
Menghargai keanekaragaman
Pada abad ke-21, siswa harus turut berperan dalam kegiatan pendidikan. Peran aktif siswa membantu mereka mengembangkan kompetensi dalam kehidupan dan bekerja bersama dalam masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya dan organisasi. Mereka harus belajar bahwa mereka tidak akan selalu dihargai, tetapi mereka harus mencari dan menggunakan bakat dan ide-ide mereka di antara beragam siswa lainnya. Ini merupakan keterampilan penting yang harus dilatih dan sering digunakan oleh siswa. Keterampilan ini melibatkan rasa hormat dan menghargai permasalahan orang lain dan budaya yang berbeda dari budaya mereka, sehingga mereka akan memperoleh keterampilan social dan lintas budaya
Teamwork & interconnectedness
Keterampilan teamwork dan interconnectedness harus menjadi perhatian utama dunia pendidikan. Keterampilan ini sangat penting baik dalam kehidupan masyarakat ataupun di tempat kerja.
Civic & digital citizenship
Civic literacy (literasi bermasyarakat) merupakan keterampilan penting, karena siswa perlu mengetahui hak dan kewajiban warganegara di lingkup lokal, regional, dan nasional; mengembangkan motivasi, watak dan keterampilan untuk berpartisipasi dalam masyarakat; dan memahami dampak dari masalah kemasyarakatan secara lokal dan global. Selain hal tersebut, keterampilan abad ke-21 yang lain adalah digital citizenship (masyarakat yang melek digital) – memahami bagaimana cara untuk berpartisipasi secara produktif dan bertanggung jawab secara online.
Kompetensi global
Siswa yang memiliki kompetensi global akan mampu mengambil tindakan melalui banyak cara dan cenderung menganggap diri mereka sebagai warga dunia, bukan dari warga bangsa tertentu.
Mereka mampu menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk mensurvei dan memikirkan masalah yang perlu diprioritaskan, mengidentifikasi solusi yang dapat dilakukan, menilai solusi yang dipilih dan rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan bukti, dan mempertimbangkan dampak potensial dan konsekuensi yang mungkin muncul dari tindakan yang akan dilakukan.
Kompetensi antar budaya
Kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan masyarakat lintas budaya atau yang memiliki kebudayaan yang berbeda adalah prasyarat mendasar di dunia kerja. Semua siswa perlu mendapatkan kompetensi antarbudaya. Untuk alasan ini, pendidikan antarbudaya, yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan ini, dapat memberikan kontribusi untuk menjaga kedamaian dan pembelajaran inklusif.
KONSEP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ABAD 21
Pada upaya pengembangan pembelajaran abad 21, guru harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola pembelajaran yang tradisional bisa dipahami sebagai pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal.
Bapak pendidikan bangsa, Ki Hajar Dewantara menggaungkan 3 slogan pendidikan yaitu, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Salah satu slogan tersebut tercantum dalam logo kementrian pendidikan dan kebudayaan yaitu “tut wuri handayani” yang maknanya guru berperan sebagai pendorong dan fasilitator agar siswa bisa sukses dalam kehidupan. Satu hal lain yang penting yaitu guru akan menjadi contoh pembelajar (learner model), guru harus mengikuti perkembangan ilmu terakhir sehingga sebetulnya dalam seluruh proses pembelajaran ini guru dan siswa akan belajar bersama namun guru mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengelola kelas.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada abad 21 antara lain :
1.    Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran
2.    Masukkan unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking)
3.    Penerapan pola pendekatan dan model pembelajaran yang bervariasi
4.    Integrasi Teknologi
PRINSIP POKOK PEMBELAJARAN ABAD 21
Dalam buku paradigma pendidikan nasional abad XXI yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) atau membaca isi Pemendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, BSNP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke-21. Sedangkan Pemendikbud No. 65 tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.
Sementara itu, Jennifer Nichols menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip pokok pembelajaran abad ke 21yang dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1.      Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
2.      Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
3.      Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4.      Schools should be integrated with society
   Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya. 
PERAN GURU PADA PEMBELAJARAN ABAD 21
Sebagai seorang guru, kita harus menyiapkan anak didik kita untuk memiliki keterampilan abad ke-21. Seorang guru perlu menguasai berbagai bidang, mahir dalam hal pedagogi termasuk inovasi dalam pengajaran dan pembelajaran, memahami psikologi pembelajaran dan memiliki keterampilan konseling, mengikuti perkembangan tentang kebijakan kurikulum dan isu pendidikan,mampu memanfaatkan media dan teknologi baru dalam pembelajaran, dan tetap menerapkan nilainilai untuk pembentukan kepribadian dan akhlak yang baik. 
Banyak faktor yang berkontribusi terhadap kinerja akademik siswa, termasuk karakteristik individu dan pengalaman keluarga. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa, di antara faktorfaktor yang berhubungan dengan sekolah, guru adalah faktor paling penting. Guru yang berkualitas tinggi adalah yang memiliki pengaruh kuat terhadap prestasi siswa. Sekalipun teknologidi era digital berkembang sangat pesat, namun peran guru dan tenaga kependidikan masih tetapmemiliki peran sentral, tidak peduli bagaimana konsep pendidikan. Peran guru dalam abad ke-21harus bergeser dari berpola “penanam pengetahuan”, menuju peran sebagai pembimbing, pengarahdiskusi dan pengukur kemajuan belajar siswa (Hampson, et al., 2011).
Tujuan utama dari pembelajaran abad ke-21 adalah membangun kemampuan belajar individu dan mendukung perkembangan mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat, aktif, pebelajar yang mandiri; oleh karena itu guru perlu menjadi 'pelatih pembelajaran' – sebuah peran yang sangat berbeda dari guru kelas tradisional. Guru sebagai pelatih pembelajaran akan memberikan bimbingan untuk membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan dan menawarkan berbagai dukungan yang akan membantu siswa mencapai tujuan belajar mereka. Guru sebagai pelatih pembelajaran akan mendorong siswa untuk berinteraksi dengan pengetahuan - untuk memahami, mengkritisi, memanipulasi, mendesain, membuat dan mengubahnya.
Guru perlu memperkuat keingintahuan intelektual siswa, keterampilan mengidentifikasi dan memecahkan masalah, dan kemampuan mereka untuk membangun pengetahuan baru dengan orang lain. Guru di abad ke-21 bukanlah guru yang mahir dalam setiap topik dalam kurikulum, namun harus menjadi ahli dalam mencari tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan sesuatu, tahu bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana menggunakan sesuatu untuk melakukan sesuatu yang baru. Peran penting seorang guru abad ke-21 adalah peran mereka sebagai role model untuk kepercayaan, keterbukaan, ketekunan dan komitmen bagi siswanya dalam menghadapi ketidakpastian di abad ke-21.
DISKUSI
Berdasarkan pembahasan mengenai pembelajaran abad 21 yang telah saya sampaikan maka ada beberapa hal yang menarik untuk didiskusikan sebagai berikut :
1.  Pembelajaran abad 21 menuntut guru memiliki kapasitas keilmuan yang memadai dalam pendampingan  dan penyelenggaraan sepenuhnya dalam proses pembelajaran, khususnya dalam penguasaan iptek. Namun kondisi di lapangan banyak kita temukan guru-guru senior yang juga mayoritas adalah ASN (Aparatur Sipil Negara) yang seyogyanya dituntut untuk melaksanakan tugasnya secara profesional malah justru kurang mampu menguasai iptek, contoh kecilnya kurang mampu mengoperasikan PC (Personal Computer) atau laptop yang merupakan salah satu aspek pendukung utama dalam pembelajaran abad 21 ?
2.      Salah satu hal yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran abad 21 adalah kemampuan guru dalam memasukkan unsur berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking), namun dalam pelaksanaannya dalam proses pembelajaran sering kita temui anak-anak yang sangat sulit memahami pelajaran yang kita berikan dikelas. Bagaimana cara yang bisa kita ambil untuk tetap bisa memasukkan unsur higher other thinking dikelas namun juga mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada siswa ?
3.   Ilmu pengetahuan yang terus berkembang, teknologi yang semakin maju dan terus berubah dengan sangat cepat dengan segala kreativitas dan inovasinya sangat menuntut kita agar mampu terus mengikuti perubahan-perubahan itu dengan baik agar tidak tidak tertinggal khususnya dalam hal pengetahuan. Namun hal ini berbanding terbalik dengan sekolah-sekolah yang berada di daerah tertinggal, secara tidak langsung kita dapat pastikan mereka sangat tertinggal dalam hal teknologi. Sebagai seorang akademisi bagaimana pandangan anda terhadap kondisi tersebut ?
DAFTAR PUSTAKA
Hidayah Ratna (2017).Critical Thinking Skill: Konsep Dan Inidikator Penilaian. 01 (02) 127-1331
Rohim Abdur, dkk (2016). Belajar dan Pembelajaran di Abad 21
Yuliati, uyu (2017). Literasi Sains dalam Pembelajaran IPA. 3 (2) 21-28Y
Wijaya, dkk.(2011). Transformasi Pendidikan Abad 21 Sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global, 1, 1-16.
Zubaidah Siti (2016). Keterampilan Abad ke-21 : Keterampilan yang diajarkan melalui Pembelajaran

19 komentar:

  1. Saya menanggapi pernyataan bhwa guru senior kurang menguasai iptek.. ada beberapa faktor yg mempengaruhinya.. salah satunya sudah tidak ada minat lagi untuk belajar menggunakan laptop dengan alasan umur.. bahkan ada yg mengatakan "bebal" dalam arti mau di ajarin berapa kali pun tetap kurang paham.. karena adanya keterbatasan dalam dirinya.
    Akan tetapi ada juga yg saya temui guru senior yang masih mau belajar utk menggunakan laptop.. setidaknya membuat perangkat pembelajaran sendiri di laptop. Ketika saya menanyakan mengapa beliau bs lihai menggunakan laptp sedangkan kbanyakan org di umur seperti beliau itu tidak bs menggunakan laptop. Beliau mengatakannya karena waktu pelatihan dlu dituntut untuk menggunakan laptop sehingga beliau ingin terus menggunakan laptop agar terbiasa dan bisa. Ini berarti ada juga guru senior yang sudah tua masih ada keinginan utk mempelajari iptek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas tanggapan saudara. Saya sangat setuju dengan keinginan belajar guru senior untuk dapat menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi. Hanya saja saya masih sangat menyayangkan kurangnya motivasi dari sebagian guru yang secara pendapatan/income harusnya mampu memiliki fasilitas laptop untuk menunjang tuntutan pembelajaran, namun enggan memenuhinya. Hingga kesulitan untuk belajar dan juga memenuhi kebutuhan perangkat pembelajaran.

      Hapus
  2. Saya ingin menanggapi pertanyaan no 1. Menurut saya tidak semua langkah pada proses pembelajaran harus dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Sumber belajar tidak hanya guru namun siswa dapat menjadi sumber belajar asalkan tetap diarahkan oleh guru.kolaborasi dibutuhkan antar guru dan siswa agar tujuan pembelajaran tercapai dan tidak terhalang oleh hal2 seperti kelemahan gurubterhadap it.

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas ulasan anda.
    Saya tertarik dengan jawaban anda tentang peran guru sebagai fasilitator berperan dalam mengarahkan anak didiknya. Hanya saja menurut saya tidak semua materi pembelajaran siswa berperan menjadi sumber belajar.

    BalasHapus
  4. Assalmu alaikum, sya akan membahas point ke 2,Kemampuan berpikir merupakan proses keterampilan yang bisa dilatihkan,jadi untuk meningkatkannya adalah dengan berlatih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas ulasannya..
      Apakah hanya berfokus pada berlatih saja atau ada cara yang lain untuk meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi

      Hapus
  5. untuk no 1 dalam hal ini guru juga tidak bisa dipaksakan untuk secara cepat dapat menguasai iptek.inilah perlunya kolaborasi guru senior bersama guru junior yg lebih paham teknologi dalam mencapai tujun pembelajaran abad 21

    BalasHapus
  6. Saya menjawab pertanyaan no 1
    Saya sepakat dgn kak bestia. Bahwa guru tdk bisa d paksakan secara cepat menguasai iptek. Karna terpautnya usia. Guru tsb akan merasa kesukitan dlm melakukan hal tsb. Jd guru junior l yg mmbntu agar huru senior dpt memahami hak tsb
    Terinaksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk ulasan saudara. Tentu kolaborasi menjadi salah satu solusi dalam permasalahan ini, namun bagamana kasus nya jika tidak timbul keinginan untuk menguasai IT,...?

      Hapus
  7. saya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang cara memasukkan kemampuan berfikir tingkat tinggi pada siswa yaitu dengan cara bertahap yakni dengan mengajarkan siswa berfikir dari tingkat rendah, sedang dan lama-kelamaan akan berfikir tingkat tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan pernyataan rahayu, bahwasannya kemampuan berfikir tingkat tinggi dilakukan dengan cara bertahap

      Hapus
    2. Bagaimana implementasinya dalam proses pembelajaran saudara reni dan rahayu?

      Hapus
  8. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2. cara memasukkan kemampuan berfikir tingkat tinggi pada siswa. Sependapat dengan saudari Rahayu yaitu dengan cara bertahap yakni dengan mengajarkan siswa berfikir dari tingkat rendah, sedang dan lama-kelamaan akan berfikir tingkat tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Implementasi dalam proses pembelajarannya bagaimana saudari rohana?

      Hapus
  9. Sy ingin menanggapi nomor 1.
    Menurut sy guru belum bisa dikatakan profesional jika tidak di bisa mengaplikasikan IT.untuk itu perlu diadakan pelatihan dan paling tidak guru harus menyiapkan perangkat kerja sendiri. Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas tanggapan anda. Bagaimana pendapat anda dengan guru-guru yang sudah banyak mendapatkan pelatihan namun tidak juga mengaplikasikan hasil pelatihan nya dilapangan..?

      Hapus
  10. Asalamualaikum
    artikel yang sangat menarik
    saya menanggapi diskusi nomor 2
    soal HOTS pada taksonomi Bloom adalah analisis dan sintesis. kemampuan berfikir tingkat tinggi dilatih melalui proses pembelajaran
    jadi HOTS bukan hanya pada saat penilaian tetapi dimulai dari saat pembelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas tanggapannya..
      Saya tertarik dengan penjelasan anda.. Jadi menarik siswa agar mampu berfikir tingkat tinggi dapat dimulai saat pembelajara berlangsung (penilaian proses). Bagaimana dengan implementasinya.

      Hapus
  11. Saya memiliki kendala dalam melakukan penilaian proses karena sangat mengamati siswa yg banyak dalam satu waktu.

    BalasHapus