Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Juni 2014

Aku Cinta Bapak karena Allah




Jum’at ini 28 Maret 2014 aku berencana pulang ke rumah orangtuaku yang berjarak 1 jam perjalanan. Jam 16.30 aku menelfon mamak agar bapak atau adek bisa menjemputku. Sebenarnya banyak jalan untuk menuju daerah tempat tinggalku, namun kali ini aku memilih untuk melewati  NES yang terkenal dengan sepi dan banyak hutannya. Biasanya jika aku melewati jalan ini bapak atau adek akan menjemputku di sebuah bengkel yang jaraknya 20 menit perjalanan, dan untuk menempuh waktu 20 menit ini harus melewati hutan yang ditumbuhi oleh pohon karet yang sangat sepi jika sore hari karena hanya akan ada beberapa kendaraan yang lewat setelah melewati jam 2 siang. Di awal perjalanan mamak menelfon dan memberitahukan bahwa dirumah hujan, sehingga memintaku untuk menunggu di bengkel yang kuceritakan tadi, aku lantas menolak karena sering sekali mendengar bahwa daerah tersebut sangat rawan terjadinya tindak kejahatan, mamak mengalah dan mengatakan bapak akan segera menjemput dan menyuruhku untuk membawa motor pelan-pelan. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan dengan sangat waspada. 30 menit berlalu, sampailah aku dibengkel tempat biasa bapak atau adek menjemput, tak ada tanda-tanda mereka disana. 
Akhirnya aku nekat menembus hutan dan berharap di pertengahan jalan akan bertemu dengan bapak, sembari sesekali melihat kebelakang takut ada yang mengikuti kupacu kendaraanku dengan kecepepatan extra. Setelah sekitar 7 menit melewati hutan sendiri belum ada tanda-tanda bapak datang, aku mulai cemas. Tibalah aku di pinggir sebuah sungai yang hanya ada jembatan darurat berupa beberapa kayu yang disatukan, aku terkejut melihat seorang pemuda berpakaian putih berdiri dan berjalan perlahan di pinggiran, ditangannya tengah ada sebilah golok, seluruh tubuhku mendadak dingin. Aku berpura-pura tidak takut dan terus memacu kendaraanku dan sedikit menarik nafas lega karena sepertinya pemuda itu dan satu orang temannya sedang mencari sesuatu didaerah itu. Perlahan aku meniti jembatan darurat itu, dan sembari berharap bapak tiba-tiba muncul dan menemaniku, saat itu hujan semakin deras mengguyur tubuhku. Setelah berhasil melewati jembatan darurat tersebut masalah baru muncul, jalanan tiba-tiba berubah menjadi sangat licin, jalanan tanah itu seolah-olah terkoyak-koyak dengan ban motorku, laju motor  tak lagi seimbang, goyang sana goyang sini, berkali-kali aku hampir terjatuh, dengan sekali-sekali tetap memandang kearah belakang takut-takut kedua pemuda tadi mengejarku aku mencoba berjuang mengkondisikan motorku. Aahh jalanan makin payah dan licin, berkali-kali aku hampir terjatuh, hujan makin mengguyur dan aku fix sedang tengah berada ditengah hutan yang sangat sepi jam 17.20an. Dadaku berdebar, mataku panas, aku menangis dan tetap berjuang melajukan motorku dengan susah payah, ban motor sudah tebal dengan lengketan tanah yang semakin menumpuk. Dalam hati aku selalu berdoa, berharap pertolongan akan segera datang. 5 menit berjuang dengan jalanan yang mengerikan akhirnya aku bertemu dengan jalanan bekas alat berat yang kebetulan telah dibubuhi kerikil, dan Alhamdulillah aku mampu berjalan cukup mulus, sambil berharap bertemu bapak dipertengahan jalan. Dalam hati aku kecewa, aku telah menelfon dan meminta untuk dijemput lebih dari 30menit yang lalu namun tetap belum ada tanda-tanda kedatangan bapak. Dengan tetap berdebar-debar akhirnya aku berhasil melewati jalanan yang banyak tertutupi air bekas hujan yang turun. Aku bias bernafas lega setelah melihat beberapa atap rumah didaerahku, dan ak sampai 3 menit aku sampai rumah. Kulihat rumah sepi, diruang tengah mamak tengah menunggu kedatanganku, aku langsung bertanya kenapa aku tidak dijemput, dan menanyakan bapak dimana. Aku marah dan kecewa, sembari mengemasi pakaian basah dan kotorku aku semakin menangis mengingat kejadian-kejadian tadi. Bapak menjemputku namun tidak tau mengapa sampai aku tidak bertemu dengannya. Setelah mandi dengan air panas yang di siapkan mamak, aku berbaring diatas kasur lantai. Aku melihat bapak pulang membawa helm ditangannya, namun tak kulihat bapak mengendarai motor. Barulah setelah memasuki rumah, bapak bercerita bahwa rantai motornya putus dipertengahan jalan,  karena katakutannya terhadap petir, bapak langsung putar balik dan berlari mendorong motornya dan membawanya ke bengkel yang berjarak cukup jauh dari tempat putus rantai motornya. Dulu bapak pernah hampir kehilangan nyawa karena gubuk tempat tinggalnya pernah disambar petir, bajunya compang-camping dan gubuk itu hancur berantakan. Oleh karena itulah sampai saat ini bapak sangat takut terhadap petir. Mendengar cerita itu aku tak jadi marah pada bapak, dalam hati aku menyalahnkan diriku sendiri yang tidak mendenarkan perintah mamak dan bapak. Maaf pak, karena aku bapak kembali teringat trauma masa mudamu.
Azan magrib berkumandang, bapak dan mamak solat berjamaah, aku menuju dapur untuk mengambil makan dan kembali ke ruang tengah, makan dengan cukup lahap. Tiba-tiba bapak mendekatiku, memegang kedua kepalaku, lalu menarik kearahnya kemudian mengecup puncak kepalaku berkali-kali kulihat matanya berkaca, senyumnya berkembang. Aku yang kaget dengan tindakan refleks bapak hanya bertanya-tanya. Mataku memerah, hatiku berat, bapak lagi-lagi menangis, aku tau bapak merasa bersalah karena kejadian tadi, aku tau dia khawatir terhadapku, namun dia tetap tak bias melawan trauma masa lalunya. Ahh bapak, aku tau kau begitu mencintaiku, maaf aku membuatmu khawatir, aku cinta bapak karena allah, maaf belum bias menjadi apa-apa dan memberikan apa-apa, namun aku janji suatu saat aku akan membahagiakanmu seumur hidupku.
Dengan cinta

Santi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar