Jum’at ini 28 Maret
2014 aku berencana pulang ke rumah orangtuaku yang berjarak 1 jam perjalanan.
Jam 16.30 aku menelfon mamak agar bapak atau adek bisa menjemputku. Sebenarnya
banyak jalan untuk menuju daerah tempat tinggalku, namun kali ini aku memilih
untuk melewati NES yang terkenal dengan
sepi dan banyak hutannya. Biasanya jika aku melewati jalan ini bapak atau adek
akan menjemputku di sebuah bengkel yang jaraknya 20 menit perjalanan, dan untuk
menempuh waktu 20 menit ini harus melewati hutan yang ditumbuhi oleh pohon
karet yang sangat sepi jika sore hari karena hanya akan ada beberapa kendaraan
yang lewat setelah melewati jam 2 siang. Di awal perjalanan mamak menelfon dan
memberitahukan bahwa dirumah hujan, sehingga memintaku untuk menunggu di
bengkel yang kuceritakan tadi, aku lantas menolak karena sering sekali
mendengar bahwa daerah tersebut sangat rawan terjadinya tindak kejahatan, mamak
mengalah dan mengatakan bapak akan segera menjemput dan menyuruhku untuk
membawa motor pelan-pelan. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan dengan sangat
waspada. 30 menit berlalu, sampailah aku dibengkel tempat biasa bapak atau adek
menjemput, tak ada tanda-tanda mereka disana.
Akhirnya aku nekat menembus hutan
dan berharap di pertengahan jalan akan bertemu dengan bapak, sembari sesekali
melihat kebelakang takut ada yang mengikuti kupacu kendaraanku dengan
kecepepatan extra. Setelah sekitar 7 menit melewati hutan sendiri belum ada
tanda-tanda bapak datang, aku mulai cemas. Tibalah aku di pinggir sebuah sungai
yang hanya ada jembatan darurat berupa beberapa kayu yang disatukan, aku
terkejut melihat seorang pemuda berpakaian putih berdiri dan berjalan perlahan
di pinggiran, ditangannya tengah ada sebilah golok, seluruh tubuhku mendadak
dingin. Aku berpura-pura tidak takut dan terus memacu kendaraanku dan sedikit
menarik nafas lega karena sepertinya pemuda itu dan satu orang temannya sedang
mencari sesuatu didaerah itu. Perlahan aku meniti jembatan darurat itu, dan
sembari berharap bapak tiba-tiba muncul dan menemaniku, saat itu hujan semakin
deras mengguyur tubuhku. Setelah berhasil melewati jembatan darurat tersebut
masalah baru muncul, jalanan tiba-tiba berubah menjadi sangat licin, jalanan
tanah itu seolah-olah terkoyak-koyak dengan ban motorku, laju motor
tak lagi seimbang, goyang sana goyang sini,
berkali-kali aku hampir terjatuh, dengan sekali-sekali tetap memandang kearah
belakang takut-takut kedua pemuda tadi mengejarku aku mencoba berjuang
mengkondisikan motorku. Aahh jalanan makin payah dan licin, berkali-kali aku
hampir terjatuh, hujan makin mengguyur dan aku fix sedang tengah berada
ditengah hutan yang sangat sepi jam 17.20an. Dadaku berdebar, mataku panas, aku
menangis dan tetap berjuang melajukan motorku dengan susah payah, ban motor
sudah tebal dengan lengketan tanah yang semakin menumpuk. Dalam hati aku selalu
berdoa, berharap pertolongan akan segera datang. 5 menit berjuang dengan
jalanan yang mengerikan akhirnya aku bertemu dengan jalanan bekas alat berat
yang kebetulan telah dibubuhi kerikil, dan Alhamdulillah aku mampu berjalan
cukup mulus, sambil berharap bertemu bapak dipertengahan jalan. Dalam hati aku
kecewa, aku telah menelfon dan meminta untuk dijemput lebih dari 30menit yang
lalu namun tetap belum ada tanda-tanda kedatangan bapak. Dengan tetap
berdebar-debar akhirnya aku berhasil melewati jalanan yang banyak tertutupi air
bekas hujan yang turun. Aku bias bernafas lega setelah melihat beberapa atap
rumah didaerahku, dan ak sampai 3 menit aku sampai rumah. Kulihat rumah sepi,
diruang tengah mamak tengah menunggu kedatanganku, aku langsung bertanya kenapa
aku tidak dijemput, dan menanyakan bapak dimana. Aku marah dan kecewa, sembari
mengemasi pakaian basah dan kotorku aku semakin menangis mengingat
kejadian-kejadian tadi. Bapak menjemputku namun tidak tau mengapa sampai aku
tidak bertemu dengannya. Setelah mandi dengan air panas yang di siapkan mamak,
aku berbaring diatas kasur lantai. Aku melihat bapak pulang membawa helm
ditangannya, namun tak kulihat bapak mengendarai motor. Barulah setelah
memasuki rumah, bapak bercerita bahwa rantai motornya putus dipertengahan
jalan,
karena katakutannya terhadap
petir, bapak langsung putar balik dan berlari mendorong motornya dan membawanya
ke bengkel yang berjarak cukup jauh dari tempat putus rantai motornya. Dulu
bapak pernah hampir kehilangan nyawa karena gubuk tempat tinggalnya pernah
disambar petir, bajunya compang-camping dan gubuk itu hancur berantakan. Oleh
karena itulah sampai saat ini bapak sangat takut terhadap petir. Mendengar
cerita itu aku tak jadi marah pada bapak, dalam hati aku menyalahnkan diriku
sendiri yang tidak mendenarkan perintah mamak dan bapak. Maaf pak, karena aku
bapak kembali teringat trauma masa mudamu.
Azan magrib
berkumandang, bapak dan mamak solat berjamaah, aku menuju dapur untuk mengambil
makan dan kembali ke ruang tengah, makan dengan cukup lahap. Tiba-tiba bapak
mendekatiku, memegang kedua kepalaku, lalu menarik kearahnya kemudian mengecup
puncak kepalaku berkali-kali kulihat matanya berkaca, senyumnya berkembang. Aku
yang kaget dengan tindakan refleks bapak hanya bertanya-tanya. Mataku memerah,
hatiku berat, bapak lagi-lagi menangis, aku tau bapak merasa bersalah karena
kejadian tadi, aku tau dia khawatir terhadapku, namun dia tetap tak bias
melawan trauma masa lalunya. Ahh bapak, aku tau kau begitu mencintaiku, maaf
aku membuatmu khawatir, aku cinta bapak karena allah, maaf belum bias menjadi
apa-apa dan memberikan apa-apa, namun aku janji suatu saat aku akan membahagiakanmu
seumur hidupku.
Dengan cinta
Santi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar